Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga
Saturday, 31 July 2010
 
 
Surat-surat dari Penjara
Active ImageTugas para intelektual itu adalah menarik gerbong “Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). Revolusi itu tidak dimulai dengan membangkitkan orang-orang tertindas dengan cara mengubah atau mentransformasikan realitas obyektif menjadi kesadaran subyektif. Realitas obyektif bahwa mereka mengalami penindasan, penganiayaan. Kelas atas harus bergandengan tangan dengan kelas bawah. Perbedaan di antara keduanya bukan lantas menjadi pertentangan kelas, dan lalu pemberontakan kelas bawah melawan kelas atas. Pertumpahan darah tidak akan terjadi bila kelas atas membangkitkan kesadaran kelas dan bergabung bersama kelas bawah (mustadh’afin), dengan menerapkan metode sederhana, yaitu mengajak manusia berlomba-lomba menjadi sederhana." (M Dawam Rahardjo)
Filter     Order     Display # 
Item Title Hits
Barat Bukan Diskotik, Mobil, atau Bikini 1150
Belajar Berkata "Tidak" 732
Berpolitik, Masuk Penjara, atau Mati 645
Bukti Penguasa itu Memang Zalim 625
Dalam Kesendirian ada Setan 696
Globalisasi: Kapitalisme Wajah Baru? 1630
Hukum Kita, Tidak Adil dalam Konsep 663
Islam Faith dan Islam Regulation 797
Kapitalisme: Manipulasi Kesadaran 680
Keadilan "Atas Nama" Atau "untuk Rakyat" 1369
Mahasiswa, Jangan Hanya Bicara 637
Membangun Tidak Semudah Berkata-kata 696
Mencari Ibu bagi Anak-anak Dunia 588
Pengantar M Dawam Rahardjo 1111
Problem Kita, Ya Struktural Itu 669
Revoluasi tanpa Darah 709
Saya Bukan Marxist 1013
Selamat Tinggal Penindasan 795
Seni untuk Perubahan 772
Strategi Kebudayaan: Pandangan Seorang Petapa 2075
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
Results 1 - 20 of 23
  • Manifesto Kekuatan Ketiga  ( 25 items )
    Buku ini bisa hadir di hadapan pembaca yang budiman, dimulai dari kegelisahan penulis dalam mengamati kekuatan politik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam saat ini, yang semakin menjauh dari cita-cita awalnya. Pada hemat penulis, kelompok nasionalis yang berkuasa saat ini, telah keluar dari pemikiran-pemikiran Bung Karno, sehingga melupakan kaum marhaen atau wong cilik yang selalu hidup dirundung kesulitan. Sementara itu, kelompok Islamnya telah keluar dari cara-cara berjuang yang dilakukan oleh HOS. Tjokroaminoto, yang telah dengan setia menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan orang-orang tertindas (mustadh’afin).
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!