Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga
Saturday, 31 July 2010
 
 
Manifesto Kekuatan Ketiga
Buku ini bisa hadir di hadapan pembaca yang budiman, dimulai dari kegelisahan penulis dalam mengamati kekuatan politik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam saat ini, yang semakin menjauh dari cita-cita awalnya. Pada hemat penulis, kelompok nasionalis yang berkuasa saat ini, telah keluar dari pemikiran-pemikiran Bung Karno, sehingga melupakan kaum marhaen atau wong cilik yang selalu hidup dirundung kesulitan. Sementara itu, kelompok Islamnya telah keluar dari cara-cara berjuang yang dilakukan oleh HOS. Tjokroaminoto, yang telah dengan setia menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan orang-orang tertindas (mustadh’afin).
Filter     Order     Display # 
Item Title Hits
1. Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan 744
1.1. Masyarakat yang Membungkuk-Bungkuk 830
1.2. Pengkhianatan terhadap Reformasi 657
1.3. Penjajahan Kembali (Rekolonisasi) 772
2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua telah Menjadi Kekuatan Lama 701
2.2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua 740
2.2.1. Demokrasi yang Elitis 756
2.2.2. Ekonomi yang Anti Rakyat 742
2.2.3. Hukum yang Menghamba pada Kekuasaan dan Materi 720
2.2.4. Hilangnya Identitas Sosial-Budaya 1148
2.2.5. Strategi Pendidikan, SDM dan Teknologi yang tak Terpadu 1136
2.2.6. Hubungan Internasional yang Pasif 2053
2.2.7. Otonomi Daerah yang Membingungkan 1140
3. Kekuatan Ketiga adalah Kekuatan yang akan Memimpin 826
3.1.1. Dorongan Perubahan pada Lingkungan Internasional 1141
3.1.2. Dorongan Perubahan pada Lingkungan Domestik 878
3.2. Mengobarkan Asas Nasionalisme-Kerakyatan 1092
3.2.1. Melaksanakan Demokrasi Sosial bukan Demokrasi Liberal 1955
3.2.2. Melaksanakan Kebijakan Ekonomi Progresif (KEP) 1732
3.2.3. Menegakkan Kewibawaan Hukum 1397
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
Results 1 - 20 of 25
  • Surat-surat dari Penjara  ( 23 items )
    Active ImageTugas para intelektual itu adalah menarik gerbong “Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). Revolusi itu tidak dimulai dengan membangkitkan orang-orang tertindas dengan cara mengubah atau mentransformasikan realitas obyektif menjadi kesadaran subyektif. Realitas obyektif bahwa mereka mengalami penindasan, penganiayaan. Kelas atas harus bergandengan tangan dengan kelas bawah. Perbedaan di antara keduanya bukan lantas menjadi pertentangan kelas, dan lalu pemberontakan kelas bawah melawan kelas atas. Pertumpahan darah tidak akan terjadi bila kelas atas membangkitkan kesadaran kelas dan bergabung bersama kelas bawah (mustadh’afin), dengan menerapkan metode sederhana, yaitu mengajak manusia berlomba-lomba menjadi sederhana." (M Dawam Rahardjo)
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!