Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga
Wednesday, 07 January 2009
 
 
Manifesto Kekuatan Ketiga
Buku ini bisa hadir di hadapan pembaca yang budiman, dimulai dari kegelisahan penulis dalam mengamati kekuatan politik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam saat ini, yang semakin menjauh dari cita-cita awalnya. Pada hemat penulis, kelompok nasionalis yang berkuasa saat ini, telah keluar dari pemikiran-pemikiran Bung Karno, sehingga melupakan kaum marhaen atau wong cilik yang selalu hidup dirundung kesulitan. Sementara itu, kelompok Islamnya telah keluar dari cara-cara berjuang yang dilakukan oleh HOS. Tjokroaminoto, yang telah dengan setia menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan orang-orang tertindas (mustadh’afin).
Filter     Order     Display # 
Item Title Hits
1. Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan 191
1.1. Masyarakat yang Membungkuk-Bungkuk 205
1.2. Pengkhianatan terhadap Reformasi 176
1.3. Penjajahan Kembali (Rekolonisasi) 230
2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua telah Menjadi Kekuatan Lama 206
2.2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua 202
2.2.1. Demokrasi yang Elitis 205
2.2.2. Ekonomi yang Anti Rakyat 231
2.2.3. Hukum yang Menghamba pada Kekuasaan dan Materi 213
2.2.4. Hilangnya Identitas Sosial-Budaya 342
2.2.5. Strategi Pendidikan, SDM dan Teknologi yang tak Terpadu 339
2.2.6. Hubungan Internasional yang Pasif 482
2.2.7. Otonomi Daerah yang Membingungkan 239
3. Kekuatan Ketiga adalah Kekuatan yang akan Memimpin 197
3.1.1. Dorongan Perubahan pada Lingkungan Internasional 295
3.1.2. Dorongan Perubahan pada Lingkungan Domestik 238
3.2. Mengobarkan Asas Nasionalisme-Kerakyatan 282
3.2.1. Melaksanakan Demokrasi Sosial bukan Demokrasi Liberal 597
3.2.2. Melaksanakan Kebijakan Ekonomi Progresif (KEP) 479
3.2.3. Menegakkan Kewibawaan Hukum 475
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
Results 1 - 20 of 25
  • Surat-surat dari Penjara  ( 23 items )
    Active ImageTugas para intelektual itu adalah menarik gerbong “Revolusi Mental” dengan motornya : “hasrat jiwa untuk menolong sesama”, sebuah metodologi alternatif untuk memperjuangkan orang-orang tertindas (“Revolusi Tanpa Darah”). Revolusi itu tidak dimulai dengan membangkitkan orang-orang tertindas dengan cara mengubah atau mentransformasikan realitas obyektif menjadi kesadaran subyektif. Realitas obyektif bahwa mereka mengalami penindasan, penganiayaan. Kelas atas harus bergandengan tangan dengan kelas bawah. Perbedaan di antara keduanya bukan lantas menjadi pertentangan kelas, dan lalu pemberontakan kelas bawah melawan kelas atas. Pertumpahan darah tidak akan terjadi bila kelas atas membangkitkan kesadaran kelas dan bergabung bersama kelas bawah (mustadh’afin), dengan menerapkan metode sederhana, yaitu mengajak manusia berlomba-lomba menjadi sederhana." (M Dawam Rahardjo)
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!