| Selamat Tinggal Penindasan |
|
|
|
| Sunday, 05 August 1990 | |
|
(Mengenang Setahun Peristiwa 5 Agustus) Rumah, Tahanan Kebon Waru, Bandung, 5 Agustus 1990 Assalamu’alaikum wr. wb. Setahun lalu, tepatnya pada 5 Agustus 1989, mungkin Anda pernah mendengar suatu peristiwa yang sering disebut “Peristiwa 5 Agustus”. Bisa jadi Anda sudah melupakannya, karena memang peristiwa itu tidak langsung berkenaan dengan diri Anda atau karena Anda kurang memahami latar belakang peristiwa itu. Tetapi paling tidak, Anda akan ingat bahwa akibat dari peristiwa itu telah terjadi penangkapan, penahanan, pengadilan, bahkan pemecatan status kemahasiswaan. Dan saya adalah salah seorang di antara yang terkena akibat itu. Mungkin Anda tahu bahwa sampai sekarang saya masih berada di balik terali besi, tetapi saya tidak meminta Anda agar mengasihani saya. Sudah cukup bagi saya jika Anda mau memahami mengapa peristiwa itu sampai terjadi. Cukup Anda memahami, betapa represifnya penanganan terhadap diri saya. Perlu Anda ketahui, peristiwa yang menimpa diri saya suatu saat bisa saja menimpa Anda walaupun dalam bentuk berbeda. Sebab itu Anda harus tetap waspada dengan situasi seperti ini. Mungkin, Anda telah mendengar atau melihat sendiri melalui media massa, bahwa tidak sedikit saudara-saudara kita yang nun jauh berada di pedesaan hidup dalam kesusahan. Umumnya mereka petani, sehingga jika ada yang merebut tanah-tanah mereka berarti sama dengan menyuruh mereka mati. Dan kenyataannya memang penyerobotan tanah-tanah pertanian itu benar-benar terjadi. Terlalu banyak alasan penguasa untuk membenarkan penyerobotan tanah-tanah mereka, dengan mengatasnamakan pembangunan, hukum, hak, dan sebagainya. Tetapi menurut saya, semua itu tetaplah penindasan terhadap manusia. Mungkin Anda tidak bersepakat dengan saya, karena Anda lebih membela hukum daripada kemanusiaan. Anda bisa sepakat dengan saya jika Anda berganti profesi dengan para petani itu. Tetapi, sayang hal itu tidaklah mungkin dilakukan. Namun, jika Anda masih tetap pada pendirian Anda untuk membela hukum itu, maka saya hanya dapat mengatakan bahwa Anda adalah calon penindas baru pada masa mendatang. Itu berarti Anda akan berhadapan lagi dengan saya meskipun pada kondisi yang berbeda. Jika Anda mengatakan hal itu demi kepentingan pembangunan, maka saya akan berkata tidak! Anda mengatakan demi hukum, maka saya katakan tidak!, tidak!, tidak! Sekali lagi, saya tidak ingin Anda mengasihani saya. Karena saya begitu yakin dan serius dengan apa yang saya lakukan. Sebaliknya, jika Anda menganggap keberadaan saya di penjara ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, maka sayalah yang akan mengasihani diri Anda. Sebab saya menganggap Anda sedang tidur lelap, sehingga tidak menyadari penindasan yang terjadi di sekeliling Anda. Esok hari setelah Anda bangun, mungkin Anda akan bertemu dengan saya sebagai sahabat, karena Anda juga telah mengatakan “tidak” kepada penindasan dan kekejaman terhadap manusia. Tentunya di antara kita tidak ada lagi yang harus saling mengasihani, melainkan saya, Anda, dan teman-teman kita yang lain akan saling membahu untuk mengalahkan penindasan dan kekejaman. Itulah harapan saya jika Anda menyadarinya. Sekarang ini, saya tidak ingin mengatakan kepada Anda bahwa Anda adalah manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi, mungkin agak lebih pantas jika saya mengatakan bahwa sebenarnya Anda sedang terjebak oleh suatu keadaan di mana Anda diharuskan untuk memikirkan diri Anda saja. Keadaan itu telah membuat kesadaran Anda hilang, sehingga Anda tidak tahu lagi mengapa Anda harus hidup di dunia ini, atau kalaupun Anda seorang mahasiswa, maka Anda tidak mengerti peran-peran Anda dan posisi Anda di tengah-tengah masyarakat kita. Anda telah terjebak oleh perangkap permukaan yang semu dan dibuat-buat. Namun yang perlu Anda sadari, keadaan itu adalah ciptaan manusia, sehingga manusia pulalah yang mampu mengubah keadaan itu. Jika Anda tidak menyadari keadaan itu dari sejak dini, maka Anda pun dapat disebut manusia yang makin mengokohkan keadaan itu, yang berarti Anda pulalah yang telah menjadi penjebak baru bagi manusia-manusia lainnya, dan itu tidak akan Anda sadari jika Anda tidak mau berpikir. Anda mungkin mengalami sendiri bahwa apa yang Anda lakukan sekarang adalah untuk menunjang kemampuan meraih apa-apa yang Anda inginkan. Dan keinginan itu lebih dekat pada keinginan pribadi daripada keinginan masyarakat. Atau, kalaupun Anda ingin meraih keinginan-keinginan masyarakat, Anda hanya memahami hal-hal yang ada di permukaan saja, yang walaupun Anda telah mampu meraihnya, tetapi masyarakat tetaplah tidak mengalami perubahan yang paling mendasar. Mungkin inilah yang saya sebut sebagai pragmatisme pemikiran dan tindakan. Yang saya sesali, ternyata makin banyak manusia yang masuk ke alam pragmatisme ini, sehingga jika Anda membenarkan alam ini, saya berani mengatakan bahwa Anda telah memiliki sebuah ideologi pragmatisme. Mungkin Anda akan sinis dengan sebutan yang saya ungkapkan tadi. Jika benar Anda sinis, sesunggunya Anda bukanlah sinis kepada saya, melainkan kepada diri Anda sendiri, karena sekarang Anda sudah menyadari bahwa borok-borok yang tersembunyi di balik alam kesadaran Anda sudah dapat Anda lihat dengan jelas dan nyata. Namun janganlah Anda terkejut, karena Anda tidak sendirian, dan lama kelamaan perasaan terkejut pada diri Anda pun akan hilang, apalagi jika Anda terus serius dengan diri Anda. Oleh Sebab itu dengan segenap keberanian hati nurani dan akal budi, saya ingin mengatakan kepada Anda dengan penuh harapan bahwa “Anda sekarang sedang menuju pada kebenaran”. Mungkin Anda akan bertanya dalam hati: bukankah kebenaran itu relatif? Saya pun berpikir demikian, dan seharusnyalah semua manusia berpikir demikian, karena jika seseorang telah mengetahui kebenaran absolut, maka saat itu pula ia akan menuju pada kesalahan dan kekejaman serta penindasan. Saya hanya mengetahui bahwa kebenaran absolut hanyalah pada Tuhan, sedangkan manusia hanyalah berada pada suatu kerangka yang di dalamnya terjadi proses pencarian kebenaran. Untuk itu, saya mengharapkan sekali agar kita menuju pada kebenaran. Sudah saya katakan bahwa jika kita ingin keluar dari perangkap ideologi pragmatisme, berarti kita sedang menuju pada jalan kebenaran, karena ideologi pragmatisme itulah yang telah membenarkan penindasan dan kekejaman di muka bumi ini. Semua itu tidak tampak dan sangat sulit untuk kita sadari dengan baik. Untuk itu, jika Anda ingin keluar dari perangkap ideologi ini, maka Anda telah meninggalkan penindasan dan kekejaman yang secara tidak sadar telah Anda lakukan. Jika Anda telah menyadari bahwa Anda sedang berada pada alam pragmatisme, setidaknya Anda akan lebih baik dibandingkan manusia-manusia lain yang tidak sadar bahwa mereka sedang menindas dan melakukan kekejaman. Saya berani mengatakan Anda lebih baik, karena saya mengetahui Anda memiliki hati nurani dan akal budi, sehingga setelah Anda mengetahuinya, pastilah hati nurani dan akal budi Anda akan memerintahkan Anda untuk meninggalkan penindasan dan kekejaman itu. Anda pun sekarang sedang menuju kepada kebenaran, yang memang sesungguhnya Anda inginkan, tetapi Anda tidak mengerti. Setelah Anda mengerti dan mau memahami keterjebakan Anda, mungkin Anda akan dengan sekuat tenaga keluar dari tempat itu sambil mengajak teman-teman Anda yang lainnya. Anda akan lebih paham, karena Anda mau mempelajari dengan seksama realitas sosial yang sedang Anda hadapi itu. Sekarang Anda akan paham mengapa peristiwa 5 Agustus terjadi, dan Anda tidak lagi mengatakan kasihan pada diri saya. Sebaliknya, Anda akan mengharapkan agar semangat yang ada pada diri saya tidaklah menyurut. Anda berharap agar suatu saat setelah saya keluar, kita bisa bertemu sebagai sahabat yang secara bersama-sama ingin menyampaikan berita gembira kepada teman-teman kita bahwa penindasan dan kekejaman itu akan menghilang, karena suatu semangat yang kita tekadkan untuk menumbangkannya. Anda sekarang telah menjadi manusia yang sangat sadar, sehingga Anda bisa disebut sebagai “kaum intelektual pembaruan”. Namun, Anda pun harus sadar dengan ilmu yang Anda miliki, sebab jika Anda sedikit saja lengah, Anda sekali lagi akan terjebak oleh keadaan yang membuat Anda terasing dari realitas sosial yang ingin Anda ubah itu. Kelengahan itu bisa menyebabkan pikiran-pikiran dan ide-ide pembaruan Anda berada pada gerbang perubahan, tetapi akhirnya Anda tidaklah melakukan apa-apa untuk suatu perubahan, dan ini berarti Anda telah kalah. Sudah menjadi tugas Anda untuk merefleksikan terus menerus antara pikiran Anda dengan realitas sosialnya, dan jadilah Anda manusia terdepan di dalam gerbang perubahan itu. Setelah Anda berdiri di barisan paling depan gerbang perubahan itu, maka tugas Anda dan teman-teman adalah membantu menyadarkan dan mentransformasikan realitas obyektif menjadi kesadaran subyektif dari masyarakat kita. Tujuannya agar mereka juga bertindak yang sama seperti kita, yaitu mempercepat jalannya perubahan. Saya tidak mengajak Anda untuk menjadi demonstran-demonstran baru, melainkan saya hanya mengetuk pintu hati Anda, sehingga Anda tahu dan menginsyafi, serta bertindak melakukan hal-hal yang memang perlu Anda lakukan, yaitu menghilangkan penindasan dan kesewenang-wenangan di negeri Anda. Seperti kita ketahui, jalan menuju kebenaran amatlah sulit. Oleh sebab itu, Anda dan teman-teman janganlah terkejut jika pada suatu saat dihadapkan pada kenyataan yang sangat pahit, yaitu ketika Anda harus saling mencurigai sesama teman yang lainnya, padahal Anda pun mengetahui bahwa teman Anda yang lain itu ingin pula menghilangkan penindasan dan kekejaman di negerinya sendiri. Di sinilah Anda dituntut untuk berlaku arif dan menghindari pengambilan suatu penilaian yang terlampau terburu-buru, sehingga Anda tidak dengan mudahnya menganggap orang lain sebagai musuh, padahal sesungguhnya orang itu adalah teman dekat dan satu langkah dengan Anda. Itulah salah satu halangan yang cukup pahit yang akan Anda hadapi. Dan jika Anda terjebak lagi dengan situasi pertentangan yang tidak henti-hentinya, maka Anda akan menjadi manusia yang terasing lagi di dalam perubahan. Realitas sosial akan menyepelekan dan menertawakan Anda. Maka, Anda hanyalah pemain sandiwara yang berperan sebagai tukang berkelahi. Setelah Anda menyadarinya, maka Anda akan menertawakan diri sendiri dan Anda akan dicap sebagai pengacau jalan menuju cita-cita. Karena itu, sejak awal Anda perlu hati-hati. Dalam hal ini Anda dituntut lebih bersikap demokratis, yang berarti Anda harus menerima kritik dan saran bukan sebagai suatu penghinaan melainkan sebagai penghormatan atas diri Anda. Dengan begitu, akan terjadilah ruang perbincangan di antara Anda dan teman-teman, sehingga akan menghasilkan suatu kebulatan semangat dan tekad untuk menumbangkan penindasan dan kekejaman yang sudah berlarut-larut. Sebelum saya menutup surat ini saya ingin menyampaikan pada Anda bahwa Anda sangatlah dibutuhkan oleh perjalanan sejarah bangsa ini. Orang seperti Anda akan menjadi keharusan bagi suatu perubahan, dan Anda boleh berbesar hati, karena Anda sudah serius dengan apa yang Anda lakukan. Meskipun Anda harus tersisih untuk sementara dari kehidupan yang layak, tetapi pada saatnya nanti Anda akan melihat dengan segala rasa kemenangan dan kebahagiaan, bahwa telah berdiri dengan damai sebuah negeri yang sangat Anda cintai yang di dalamnya tidak ada lagi penindasan dan kekejaman yang membabi buta. Dan Anda adalah fondasi negeri ini... Wassalamu’alaikum wr. wb. Sahabatmu, Moh Jumhur Hidayat Alias: Dency |
| < Prev | Next > |
|---|







