| Berpolitik, Masuk Penjara, atau Mati |
|
|
|
| Tuesday, 04 September 1990 | |
|
Rumah Tahanan Kebon Waru, Bandung, 4 September 1990 Kepada Bapak Assalamu’alaikum wr. wb. Hari ini adalah hari ulang tahun Bapak yang ke-54. Bisa jadi Bapak tidak terlalu memikirkan hari kelahiran itu, karena banyak persoalan yang menuntut agar Bapak memikirkannya. Beberapa minggu belakangan ini mungkin Bapak sangat disibukkan oleh rencana pernikahan teteh yang akan diselenggarakan pada 9 Sepetember 1990. Pernikahan teteh memang merupakan hal baru untuk kita semua. Bagi Bapak, pernikahan teteh adalah pelepasan puteri satu-satunya yang sangat Bapak sayangi kepada calon suaminya. Hal yang sama juga terjadi pada ibu. Bagi teteh, pernikahan itu adalah luapan akhir dari ekspresi cintanya, yang tentunya juga merupakan rahmat yang diberikan Allah SWT, di samping ingin mendapatkan keturunan yang baik. Bagi ananda, pernikahan teteh berarti contoh bahwa suatu saat ananda pun akan melakukan hal yang sama. Namun sayang, ananda tidak mungkin dapat menghadiri acara pernikahan itu, karena kini ananda berada dalam penjara. Ya, penjara dari penguasa zalim yang telah menjauhkan ananda dari keluarga. Keberadaan ananda di penjara ini tentunya juga menambah beban pikiran Bapak. Bisa jadi sebelumnya Bapak tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat ananda akan dipenjara. Namun, kalau ananda ingat-ingat dahulu ketika ananda masih kecil, Bapak pernah mengatakan kurang lebih: “jika ingin berpolitik, kamu harus siap masuk penjara atau mati”. Bertahun-tahun kalimat itu ananda lupakan dan tidak pernah terngiang lagi, tetapi sekarang kalimat itu muncul jelas di hadapan ananda. Memang sekarang penjara sedang ananda hadapi, namun jika suatu saat ananda pun harus mati, karena berpolitik, maka ananda telah siap. Kematian yang ananda harapkan adalah kematian bernilai jihad dan insya Allah yang bisa memberikan arti pada perubahan di dalam negeri ini, di mana seluruh rakyatnya bisa hidup dengan sejahtera. Bisa jadi Bapak menyangka ananda di sini menderita. Memang ananda tidak menafikkan itu jika dibandingkan dengan kebebasan di luar sana. Namun, jika ananda bandingkan dengan penderitaan banyak orang di negeri ini yang nyata-nyata hidup penuh dengan penderitaan, kelaparan, kemiskinan absolut, penindasan hak-hak asasi dan sebagainya, maka keberadaan ananda di balik terali besi ini bukanlah penderitaan yang berarti. Suatu hal yang perlu Bapak ketahui adalah jangan Bapak berharap bahwa ananda akan menyerah pada kekuasaan yang sekarang menindas ananda dan rakyat kita. Ananda masih yakin, pada suatu saat kebenaran akan bangkit dan memimpin kita semua. Gerakan apa pun yang menentang kebenaran niscaya akan porak-poranda walaupun itu adalah kekuasaan yang dilengkapi dengan senjata modern dan beratus-ratus ribu tentara yang siap menembak. Bisa jadi Bapak akan terkejut dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada ananda, karena sebelumnya Bapak masih menganggap ananda seperti anak kecil. Tetapi, itulah kenyataan yang harus kita hadapi, yaitu perubahan. Siapa yang takut menghadapi perubahan, maka ia diragukan segi kemanusiaannnya. Tentu perubahan yang kita lakukan haruslah menjadi bekal untuk kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat kelak. Bisa jadi perubahan yang terjadi pada diri ananda, menurut Bapak, sangat ekstrem, sehingga alam pikiran Bapak mungkin tidak bisa memahami keberangan ananda sekarang. Apalagi, jika alam pikiran itu dicampuri keinginan-keinginan subyektif seorang ayah terhadap anaknya. Tentu makin tidak paham. Untuk itu, ada baiknya jika mulai sekarang Bapak tidak lagi memandang ananda sebagai anak yang masih perlu buaian. Sebaliknya, pandanglah ananda sebagai pemuda yang sedang mengejar cita-cita yang sangat banyak menemui tantangan dan rintangan. Semoga apa yang ananda perbuat ini bukan saja bermakna untuk diri ananda, melainkan juga bagi seluruh rakyat Indonesia yang kita cintai. Sepintas lalu, perjalanan waktu selama tiga tahun tampaknya cukup lama, apalagi jika dijalani dalam penjara. Namun, Bapak tidak perlu mengkhawatirkan ananda, karena hukuman selama tiga tahun ini sisanya tinggal dua tahun, dan akan ananda hadapi dengan penuh rasa optimistis untuk meningkatkan pendalaman dan pemahaman ananda terhadap realitas kehidupan. Insya Allah pemahaman tersebut bisa ananda manfaatkan sebagai alat perjuangan ananda dalam mensejahterakan rakyat. Tetapi sebaliknya, jika Bapak mengkhawatirkan keberadaan ananda di sini, hal itu akan menambah beban sekaligus hambatan serius buat ananda. Sehingga bisa merusak semua rencana, baik rencana ananda, Bapak, maupun keluarga. Sekali lagi, sebelum menutup surat ini, ananda ingin Bapak mengikhlaskan kenyataan yang sedang kita hadapi. Tentu semua ini perlu dibarengi dengan berusaha ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Ananda berharap Bapak bisa berbahagia di hari ulang tahun Bapak ini dan pada masa-masa yang akan datang. Ananda masih yakin bahwa suatu saat insya Allah kita sekeluarga akan berkumpul lagi walaupun harus dengan kondisi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Demikian surat dari ananda kepada Bapak, selamat berulang tahun yang ke-54, semoga Allah SWT memberkahi Bapak dan kita sekeluarga ... Amin! Wassalamu’alaikum wr. wb. Peluk cium dari ananda, Moh Jumhur Hidayat Alias: Dency NB: Peluk cium juga untuk Ibu, Teteh, Imam, dan Agung. |
| < Prev | Next > |
|---|






