| Mencari Ibu bagi Anak-anak Dunia |
|
|
|
| Saturday, 29 December 1990 | |
|
Penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1990 Kepada Enin dan Bambang Assalamu’alaikum wr. wb. Mungkin Anda akan menuduh saya terlalu banyak berbasa-basi jika saya menanyakan keadaan Anda di penjara. Untuk itu, sebisa mungkin saya akan menghindari perkataan ke arah sana, karena hal itu dapat mengingatkan saya dan juga mungkin Anda, bahwa kita sedang berada dalam penindasan yang nyata. Penindasan ini dirasakan pula oleh sekian banyak rakyat kita walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Bentuk penindasan itu tidak tampak oleh mata telanjang kecuali jika kita mempunyai jaring yang cukup baik untuk menangkap realitas sosial yang timpang dan menindas itu. Saya yakin dan tentu penuh harap bahwa saat-saat sekarang ini kita sedang membuat jaring pada diri kita untuk menangkap realitas sosial di hadapan kita. Kalau dahulu kita hanya bisa menangkap ikan paus atau hiu, tetapi di kemudian hari mungkin kita sudah bisa menangkap ikan teri dengan jaring-jaring kita. Bahkan, plankton-plankton pun akan ikut terbawa, karena jaring kita mempunyai kerapatan dan kekuatan luar biasa. Teori adalah jaring untuk menangkap realitas sosial, demikian kata Ralf Dahrendorf. Dan sekarang ini kita pun sedang membuat jaring-jaring itu. Saya pernah merenung tentang hubungan kemanusiaan, yang pada akhirnya sampailah pada suatu pertanyaan: mengapa manusia tidak ada yang seperti ibu saya? Mengapa tidak ada manusia yang bisa memberikan kasih sayang seperti ibu saya? Mengapa orang-orang itu tetap saja tertidur pulas ketika saya kelaparan, kepanasan, kehujanan, atau mati sekalipun? Apakah yang mengikat sedemikian kuatnya, sehingga ibu saya mampu memberikan perhatian yang amat sangat kepada diri saya? Mungkinkah hubungan yang sedemikian kuat itu diciptakan oleh suatu proses sosial dalam sejarah kemanusiaan ini? Tetapi, mengapa ibu saya juga hanya memperhatikan diri saya dan tidak kepada orang-orang lain? Apakah ini bukan merupakan bukti bahwa ada cinta di dalam kekejaman? Memang! ibu saya juga merupakan produk sosial dalam suatu mode masyarakat sekarang ini. Saya berharap agar di suatu saat kelak akan lahir ibu yang memberikan perhatian penuh tidak saja kepada saya, tetapi juga kepada orang lain. Atas dasar itulah sekarang saya dan juga mungkin Anda sedang berusaha membuat jaring itu agar kita bisa menangkap realitas sosial dan kemudian mengarahkannya kepada mode masyarakat tempat lahirnya seorang ibu yang tidak saja memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya, tetapi juga kepada yang lain. Anda boleh mengatakan bahwa saya sedang bermimpi. Namun, tentu Anda pun akan ingat bahwa kepergian manusia ke bulan juga berasal dari sebuah mimpi, yaitu mimpi yang sadar. Mimpi yang sadar adalah mimpi yang juga sekaligus sedang membangun metode-metode ilmiahnya untuk merealisasikan mimpi itu. Semoga sekaranglah saatnya saya dan juga mungkin Anda sedang bermimpi secara sadar. Saya kemarin kedatangan seorang kawan yang membesuk. Ia mengatakan bahwa adalah hal yang naif untuk merasa menderita hidup dalam penjara. Bisa jadi ucapannya itu benar, karena memang seharusnya manusia bukanlah mengikuti apa yang diinginkan oleh alam bawah sadarnya, melainkan mengelolanya dengan baik dan proporsional. Kalau saja kita mampu mengelola bawah sadar kita bahwa penjara adalah tempat pertapaan yang baik untuk kita, tentunya kita tidak akan merasa menderita. Namun, hal ini bukan berarti kita harus membenarkan adanya penjara-penjara baru pada kemudian hari. Dan untuk itu, rasionalitas kitalah yang akan dituntut untuk membenarkan bahwa penjara tidak perlu ada atau setidaknya ia akan hilang dengan sendirinya terlibas oleh kehendak sejarah. Yakni, ketika semua orang telah menjadi ibu-ibu yang mempunyai perhatian kepada orang lain seperti kepada kita. Di luar penjara, hari kelihatannya masih mendung. Ia seakan kecewa, karena semakin sedikit pemuda yang seharusnya gagah berani, mengacungkan tangannya untuk menumpas penindasan dan kesewenang-wenangan. Ia kecewa, karena ketika ada petani yang mulai sadar untuk mengadukan nasibnya kepada “wakil rakyat” dihadang dan dianiaya oleh aparat berwajib ABRI di tengah jalan. Sekali lagi ia kecewa, karena semakin banyak manusia yang mimpi, tetapi tidak sadar. Saya hanya berharap mudah-mudahan suasana mendung di luar itu tidaklah akan masuk ke dalam penjara atau kalaupun ia masuk janganlah ia sampai mempengaruhi saya dan juga mungkin Anda, sehingga mimpi sadar yang sedang kita bangun itu berubah menjadi sebuah mimpi yang tidak sadar. Suatu saat nanti kalau tidak ada halangan, kita pasti bebas. Namun, dengan keadaan hari yang mendung itu, belumlah tentu keadaan di luar lebih menyenangkan daripada di penjara. Saya yakin bahwa keluar dari penjara bukanlah berarti kita keluar dari kemelut. Justru, kita keluar akan menghadapi kemelut baru yang tidak kalah kompleksnya dengan kemelut ketika kita di dalam penjara ini. Dan saya yakin Anda sudah siap dengan berbagai pemecahan alternatif dari kemelut itu. Kemelut paling utama yang menghabiskan tenaga dan waktu yang sangat banyak adalah menciptakan mode masyarakat yang di dalamnya terdapat manusia yang mempunyai kasih sayang kepada orang lain bagaikan ibu-ibu kita kepada kita. Demikian surat saya. Mudah-mudahan Anda bisa menjadi seperti ibu saya dan begitu juga sebaliknya ... Wassalamu’alaikum wr. wb. Sahabatmu, Moh Jumhur Hidayat |
| < Prev | Next > |
|---|






