Moh Jumhur Hidayat arrow Surat-surat dari Penjara arrow Problem Kita, Ya Struktural Itu
Saturday, 31 July 2010
 
 
Problem Kita, Ya Struktural Itu PDF Print E-mail
Tuesday, 12 February 1991
Penjara Sukamiskin, Bandung, 12 Februari 1991

Dear Suryanto (bukan nama sebenarnya)

Assalamu’alaikum wr. wb. Bagaimana keadaan Anda sekarang? Bukankah sekarang Anda sedang sibuk menghadapi tugas akhir? Tentu saya percaya Anda bisa menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan studi formal Anda dengan sangat baik. Memang benar, sebentar lagi Anda akan menyelesaikan tugas itu dan kemudian mencapai gelar sarjana, namun tugas Anda sebagai manusia tetap belum selesai dan tidak akan pernah selesai hingga ruh Anda tidak lagi menempati tubuh Anda. Mungkin Anda telah mengetahui kebanyakan mahasiswa saat ini, j ika telah selesai mencapai gelar sarjana, seolah-olah tugasnya selesai dan termin berikutnya adalah mencari kesenangan pribadi sepuas-puasnya dari ilmu yang telah diperolehnya semasa sekolah. Bagi saya, mereka yang demikian itu bukanlah manusia yang mempunyai misi, selain dari mencari kepuasan pribadi yang semu dan tidak sadar. Dan saya yakin Anda tidaklah seperti itu!

Seperti yang pernah saya isyaratkan sebelumnya, tenaga kita sangatlah dibutuhkan oleh bangsa ini. Namun, kita tidak pernah sadar bahwa kita mampu memenuhi harapan itu, sehingga sering kita mundur dan merasa kalah dalam menghadapi situasi itu semua. Jika hanya seorang menyadari bahwa dirinya lemah, maka itu memang merupakan kelemahan. Tetapi sebaliknya jika seribu orang, misalnya, menyadari dirinya lemah, maka itu sesungguhnya suatu kekuatan yang besar. Karena, jika seribu orang waras menyadari dirinya lemah, tentu mereka akan berkumpul dan mengkoordinasikan kelebihan dan membuang tiap-tiap kelemahan pada individu, sehingga menjadilah suatu kekuatan yang seutuh-utuhnya.

Katakanlah di tempat Anda terdapat seorang dokter, maka jika ada yang sakit, dokter itu dapat membantu. Sebaliknya, jika pesawat radio dokter itu rusak, dengan mudah dapat diperbaiki oleh salah seorang tetangga Anda, karena memang ia bisa melakukan itu. Dengan demikian, komunitas masyarakat tempat Anda tinggal adalah komunitas yang kuat walaupun individu-individunya tidak sekuat masyarakat itu. Dokter tadi tidak mampu memperbaiki pesawat radio, tetapi salah seorang anggota masyarakatnya mampu. Anda tidak mampu mengobati orang sakit, tetapi masyarakat Anda mampu.

Kalau saja sekarang kita menengok sedikit kepada sejarah kebangkitan orang-orang tertindas di muka bumi, baik itu tertindas, karena keserakahan imperialis ataupun tertindas oleh bangsanya sendiri, maka orang-orang lemah dan tertindas itu bangkit, justru karena mereka menyadari kelemahannya dan kemudian membangun kekuatan utuh seperti yang saya katakan tadi. Apakah Anda tidak melihat perjuangan Muhammad yang dimulai dengan membangkitkan kesadaran mustadh’afiin, baik dalam sisi moral agama dan kemasyarakatan? Apakah Anda tidak melihat perjuangan kemerdekaan bangsa ini yang dipelopori oleh pendiri bangsa yang dari jauh hari sebelumnya sudah menyadari bahwa bangsanya lemah, karena ulah tangan-tangan imperialis? Bukankah karena telah menyadari kelemahannya itu kemudian mereka membentuk suatu kekuatan yang dahsyat dan disegani? Menjadi jelaslah bagi kita, untuk membangun suatu kekuatan, maka tiada cara lain kita harus memadukan kekuatan-kekuatan yang ada pada diri kita, sehingga terwujudlah kekuatan yang utuh itu.
Dengan demikian, insya Allah kita mampu memenuhi harapan bangsa ini.

Sekarang mengapa kita tidak memulai saja membangun kekuatan itu? Belum, kita belum mampu membangun kekuatan itu, karena masih banyak di antara teman kita yang belum menyadari bahwa dirinya lemah. Apalagi menyadari bahwa masyarakatnya lemah. Karena itu, tugas paling awal bagi kita saat ini adalah menunjukkan kepada mereka bahwa mereka lemah. Masyarakat itu lemah. Ini adalah tugas yang amat berat dan penuh tantangan. Karena tantangan yang akan kita hadapi bukan saja datang dari faktor-faktor eksternal yang sengaja menghambat usaha kita. Tantangan paling penting justru dari teman-teman atau masyarakat kita sendiri yang tidak merasa bahwa dirinya lemah, sehingga perlu mengusir kelemahnnya itu dengan membangun suatu kekuatan. Anda harus sabar, karena memang sudah menjadi kebiasaan manusia bersahabat dengan kelemahan, sehingga ia tidak menyadari lagi bahwa itu suatu kelemahan yang perlu dihilangkan.

Anda mungkin sudah bisa melihat banyak kelemahan yang terdapat pada teman-teman Anda, namun mereka tidak menyadarinya. Meskipun telah diberitahu, mereka menolaknya, karena merasa itu bukanlah kelemahan. Mereka tidak merasakan kelemahan walaupun mereka tidak diberikan hak-hak untuk berorganisasi di dalam kampusnya. Mereka tidak merasakan kelemahan walaupun mereka tidak mempunyai otoritas apa pun terhadap dirinya untuk meningkatkan efektivitas sistem belajar dan mengajar. Sekali lagi, Anda harus bersabar, tetapi bukan menyerah! Dan karena kita muslim, di sinilah saatnya kita meyakini perlunya menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong kita.

Kita membutuhkan waktu lama untuk membangun kekuatan ke arah cita-cita tersebut. Ini bukan proyek jangka pendek yang akan terselesaikan setahun dua tahun, tetapi proyek jangka panjang yang mungkin belum selesai hingga kita mati kelak. Namun, setidaknya kita telah memberikan bekal kepada anak-anak kita bahwa cita-cita kita belum selesai hingga mereka meneruskan apa yang kita lakukan. Persoalan yang akan kita hadapi bukanlah seperti menghadapi ujian layaknya di sekolah yang bisa kita persiapkan hanya beberapa hari sebelumnya. Problem ini sangat kompleks, karena menyangkut manusia dan kemanusiaan. Persoalan itu adalah persoalan struktural dan bukan persoalan individu.

Mungkin Anda bisa membayangkan jika kemiskinan adalah persoalan individu. Anda merasa puas seandainya Anda sudah dapat mengadopsi anak dari orang tua yang miskin papa. Tetapi, apakah dengan Anda mengadopsi anak itu Anda juga berarti membuat ribuan, bahkan jutaan anak yang lahir dari rahim ibu yang miskin itu menjadi manusia-manusia yang bisa hidup layak? Mungkin dengan kemampuan yang Anda miliki Anda mampu mengajak teman Anda yang tadinya suka bermabuk-mabukkan ke jalan yang ia bisa hidup lebih produktif dan bermanfaat. Tetapi, apakah dengan mengajak seorang ke jalan yang lebih produktif tadi berarti Anda juga telah berbuat sama kepada ribuan anak muda pemabuk lainnya? Saya berani mengatakan bahwa Anda hanya berbuat kepada satu dua orang saja, sedang yang lainnya sedikit pun tidak terkena kebaikan Anda.

Jika Anda melakukan contoh-contoh yang saya kemukakan tadi, bukan berarti tindakan itu tidak bermanfaat. Tindakan itu bermanfaat, tetapi tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Kalau Anda merasa puas dengan tindakan Anda itu, berarti Anda berusaha menipu diri Anda sendiri. Perlu Anda ketahui banyak teman-teman kita dan juga masyarakat kita yang sedang melakukan upaya menipu diri sendiri ini. Jadi, sekali lagi, persoalan yang kita hadapi adalah persoalan struktural, persoalan yang saling kait-mengait. Jika kita memperbaiki keadaan hanya dari satu unsur saja, maka itu tidak akan menjadikan baik bagi keseluruhan. Sebaliknya, jika yang kita perbaiki adalah strukturnya, insya Allah unsur-unsur yang berada dalam struktur itu akan berjalan ke arah yang juga lebih baik. Maka, lambat laun kita akan mendapatkan hasil yang baik bagi keseluruhan.

Memang tugas ini berat, tetapi Anda jangan khawatir, karena Anda tidak sendirian. Apalagi, jika sekarang Anda terus mencari teman-teman yang memiliki cita-cita yang sama seperti Anda, maka harapan itu bukanlah fatamorgana dan jarak Anda terhadap harapan itu menjadi semakin dekat.

Sebelum saya menutup surat ini, sekali lagi, saya ingin memberitahu bahwa tenaga Anda dibutuhkan oleh bangsa ini. Anda harus menyadari bahwa Anda mampu memenuhi harapan bangsa ini dan akhirnya Anda pun akan mampu berbuat banyak untuk manusia dan kemanusiaan, untuk hidup dan kehidupan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Sahabatmu,

Moh Jumhur Hidayat
 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!