| Saya Bukan Marxist |
|
|
|
| Wednesday, 13 February 1991 | |
|
Penjara Sukamiskin, Bandung, 13 Februari 1991 Dear Harry Wibowo Assalaamu’alaimum wr. wb. Baru sekarang saya sempat menulis surat kepada Anda, setelah sekian banyak perjalanan yang kita lewati, ketika masa-masa saya diadili, saat-saat Anda berkunjung ke penjara, hingga obrolan-obrolan kita yang tidak sampai selesai, karena terbatasnya waktu. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin membangun suasana diskusi dengan Anda, karena saya tahu Anda memiliki cukup banyak pemahaman tentang masalah-masalah kemanusiaan, baik dari tinjauan filsafat, epistemologi, sosiologi, bahkan sampai kepada perilaku individu dan masyarakat dalam kehidupan sosial (psiko-sosial). Saya tidak tahu apakah Anda mengalami kekecewaan setelah sekian banyak pemahaman yang Anda miliki tadi. Anda kecewa setelah melihat ternyata banyak kenyataan dalam masyarakat Anda atau masyarakat dunia yang tidak sesuai, atau bahkan bertentangan sama sekali dengan apa yang Anda harapkan. Menurut saya, seharusnya memang kita kecewa dengan keadaan itu. Tentunya kekecewaan itulah yang akan menjadi salah satu motivator agar kita melakukan tindakan, karena tidaklah berarti pemahaman apa pun yang kita miliki tanpa usaha untuk merealisasikannya. Apalagi pemahaman kita itu datang bukan sekadar hasil kontemplasi kita. Pemahaman itu muncul, karena informasi yang kita dapatkan dari realitas sosial yang berbicara kepada kita, sehingga tumbuh kemudian pemahaman-pemahaman dan ide-ide baru kita tentang ke mana seharusnya masyarakat bergerak dan berkembang (praksis). Karena kita tidak ingin menjadi seorang utopis absolut atau seorang utopis tidak sadar atau menjadi pemimpi yang tidak sadar (tidur). Seorang intelektual seharusnya tidak mengatakan bahwa sesuatu yang ia katakan sebagai sesuatu yang pasti benar. Apa yang diungkapkan oleh seorang intelektual seharusnya ungkapan yang heuristik yaitu ungkapan yang memiliki kesimpulan terbuka, sehingga masih memungkinkan tumbuhnya kritik-kritik yang pada akhirnya akan memperkuat atau sama sekali menggagalkan ungkapannya itu. Namun, bukan berarti kita tidak melakukan apa pun, karena kita merasa takut bahwa apa yang kita lakukan bukan merupakan kebenaran. Kebenaran absolut memang tidak pernah kita miliki, karena itu hanyalah milik Tuhan. Namun, setidaknya, kita pun mengetahui ada syarat-syarat yang harus kita penuhi terlebih dahulu, sehingga lebih mudah kita menilai sesuatu apakah itu mendekati kebenaran atau tidak. Maaf, mungkin bahasa saya cenderung bernuansa normatif, namun baiklah saya akan menerangkan kepada Anda apa isi kenormatifan bahasa saya ini. Ketika kita masih kecil mungkin kita akan marah kepada ayah kita jika ia memarahi kita, karena mengendarai motor berkecepatan tinggi di jalan raya. Kita menganggap orang tua kita salah, karena melarang kita. Berbeda setelah kita dewasa, mulailah kita bisa memahami mengapa ketika itu orang tua kita marah kepada kita. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa setelah beberapa syarat kita ketahui, maka semakin dekatlah kita kepada kebenaran. Ketika kita masih kecil, kita belum memahami bahwa para pengendara di jalan raya masih banyak yang belum mematuhi rambu-rambu lalu lintas, sehingga berkendaraan masih sesukanya saja. Di samping itu, kita tidak memahami bahwa ketika itu diri kita masih lebih didominasi oleh emosi ketimbang rasio. Karena memang pendidikan kita masih sedikit atau, karena pada masa-masa itu pertumbuhan emosional manusia sedang pada puncak-puncaknya, sehingga akan berbahaya jika kita menjalankan kendaraan. Terlebih lagi, karena kita beranggapan bahwa semakin cepat itu semakin baik, tanpa ada pertimbangan-pertimbangan lain. Dari contoh itu jelas bahwa setelah kita memenuhi beberapa syarat, maka kita semakin dekat dengan kebenaran. Dan syarat-syarat dari contoh yang saya sebutkan adalah kita harus terlebih dahulu memahami keadaan pengendara yang masih ugal-ugalan itu. Kita harus mengetahui bahwa pada masa itu emosi lebih utama daripada rasio. Dengan demikian, baru kita bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh orang tua kita lebih mendekati kebenaran walaupun bukan kebenaran yang sesungguhnya. Sekarang menjadi jelaslah kenapa kita perlu melakukan sesuatu, karena kita sedikit banyak telah mengetahui syarat-syarat untuk menilai kebenaran. Sehingga, sekali lagi kita tidak perlu takut dan ragu terhadap apa yang ingin kita kerjakan. Pun tidak semestinya kita menunggu datangnya kebenaran, karena kebenaran akan muncul dengan sendirinya sesuai dengan proses yang sedang kita lakukan. Di sinilah sesungguhnya kita sedang berdialektika dengan alam dan manusia. Pada masa berkembangnya ide kapitalisme di Eropa pada sekitar abad ke-17, tidak ada seorang pun yang mengatakan kapitalisme itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Bahkan ia dianggap sebagai suatu upaya pembebasan manusia dari penindasan golongan feodal terhadap rakyat kebanyakan. Feodalisme tidak membangun situasi progresif untuk mengembangkan ide-ide manusia, karena semuanya dibatasi dan diatur oleh sang feodalis. Adam Smith adalah salah seorang yang mengilhami ide revolusi borjuis di Perancis yang berakibat runtuhnya monarki absolut di sana. Pada masa-masa itu setiap manusia akan menganggap bahwa Adam Smith, David Ricardo, Malthus, dan ahli-ahli ekonomi lainnya sebagai nabi, karena mereka telah mampu merumuskan ide-ide tentang pembebasan manusia dari penindasan sang feodalis. Waktu terus berjalan dan realitas empiris pun berbicara lain. Masyarakat yang tadinya menganggap kapitalisme sebagai paham pembebasan, karena di dalamnya juga terdapat paham individualisme di mana manusia boleh berbuat apa pun tanpa terikat oleh suatu norma atau adat sebelumnya yang dianggap menindas itu, ternyata menunjukan kecenderungan yang sebaliknya. Memang ia membebaskan manusia, tetapi pada kenyataannya hanya sebagian manusia saja yang dapat terbebaskan oleh paham ini, sedangkan masyarakat lainnya dan justru masyarakat yang mayoritas malah mengalami kemunduran, keterasingan, dan berbagai penderitaan lainnya, karena mereka tereksploitasi oleh suatu sistem produksi yang dikembangkan oleh paham kapitalisme itu. Kemudian muncullah para intelektual yang tersentuh oleh informasi yang datang dari realitas yang menindas ini. Proudhon, Saint simon, Feurbach, Robert Owen, Hegel, Karl Marx, dan lain sebagainya, adalah manusia-manusia yang berhasrat mengubah sistem sosial yang kapitalistis itu. Di antara mereka ada yang disebut sebagai sosialis utopis, karena mereka tidak bisa menunjukkan jalan ke arah sosialisme tersebut. Sedangkan Karl Marx dengan sosialisme ilmiahnya sanggup merumuskan dengan brilian jalan ke arah sosialisme. Sampai pada akhirnya Lenin, Mao, dan banyak lagi pemimpin lainnya yang mengadopsi pikiran Marx ini kemudian memakainya untuk mengadakan suatu revolusi sosial di tempatnya masing-masing. Maka, setelah itu makin terkenal Marxisme ke seluruh penjuru jagat ini. Paham ini dianggap mampu membebaskan manusia dari belenggu penindasan yang disebabkan oleh paham kapitalisme. Waktu terus berjalan sampai akhirnya saat-saat sekarang ini orang mulai mempertanyakan paham Marxisme. Karena, pada prakteknya, kemampuan paham ini membebaskan manusia hanya dalam satu dimensi saja, yaitu dimensi ekonomi (ini pun masih mengandung perdebatan, karena dari beberapa contoh negara yang menjadi obyek penelitian ternyata paham ini justru menimbulkan kemiskinan yang merata) dan menindas dimensi-dimensi lainnya. Untuk sebagian intelektual, menjuluki model masyarakat sosialis yang tampak seperti sekarang ini dengan sebutan masyarakat neo-feodalisme. Begitulah sampai pada akhirnya Determinisme Ekonomi menjadi penyelidikan yang menarik para ahli filsafat, agama, sosiologi, dan disiplin-disiplin lainnya, walaupun penyelidikan itu tidak terlepas dari nuansa-nuansa yang dilatarbelakangi oleh suatu gerakan ideologis. Max Weber, Emile Durkheim, Talcott Parsons, adalah yang sangat serius mengkaji pikiran-pikiran Marx ini. Bahkan, beberapa kalangan ahli mengatakan, mereka itu adalah pengeritik utama dari teori yang dirumuskan oleh Marx. Begitu juga para intelektual marxist tidak ketinggalan membela maksud-maksud terselubung yang dikemukakan Marx, yang kurang dapat dimengerti oleh para pengkaji teori-teorinya. Bahkan, Talcott Parsons dalam bukunya, pernah mengatakan bahwa “I am a cultural determinist”. Ucapannya itu timbul, karena dari penelitiannya tentang sejarah peradaban manusia ternyata sistem budaya sangat mempengaruhi proses evolusi masyarakat dari suatu masyarakat primitif, masyarakat tansisi (intermediate society) hingga masyarakat modern yang terjadi sampai sekarang ini. Max Weber dalam The Protestant Ethic and The Spirit Of Capitalism, menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam agama protestan itulah yang menyebabkan berkembangnya paham kapitalisme. Sedangkan dalam agama Kristen lainnya, seperti Katolik, paham kapitalisme ini tidak lebih berkembang dibanding dalam masyarakat Protestan. Sekali lagi, di sini menunjukkan bahwa ternyata norma, nilai, etika, dan lain sebagainyalah yang banyak menentukan perkembangan suatu masyarakat, walaupun memang faktor ekonomi turut ambil bagian dalam perkembangan kemanusiaan ini. Perdebatan belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai sebelum seluruh manusia terlepas ruh dari badannya (kiamat). Dan pembela-pembela Marx pun tidak ketinggalan angkat bicara, bahwa terjadinya bentuk penindasan semasa pertumbuhan masyarakat sosialis adalah konsekuensi logis dari suatu masa pertumbuhan. Karena perubahan ke arah sosialisme ini dilakukan terlalu cepat dan terburu-buru pada saat terjadinya perubahan (revolusi sosial) itu belumlah cukup matang. Namun, mereka masih meyakini bahwa masyarakat sosialis itu tetap akan terjadi, dan bahkan sudah terjadi untuk beberapa tempat di dunia ini seperti pada masyarakat Scandinavia. Itulah kurang lebih yang mereka tafsirkan dan mereka katakan. Sebaliknya, bagi orang yang memang cenderung membela kapitalisme mengatakan bahwa masyarakat Scandinavia adalah salah satu bentuk kemajuan kapitalisme yang memang memungkinkan dalam dirinya sendiri terjadi perubahan yang pada akhirnya mewujudkan welfare-state. Berbagai kontradiksi yang terdapat dalam kapitalisme bukan dipandang sebagai sesuatu yang akan menghancurkan dirinya, tetapi justru salah satu kelebihan dari kapitalisme yang memberikan ruang kontradiksi yang memungkinkan munculnya kekuatan untuk mengubah dirinya sendiri. Dan kepada mereka yang membela Marxisme dikatakanlah apa yang dilakukannya itu hanya sebuah reinterpretasi seperti yang dilakukan terhadap agama Kristen di Eropa. Kurang lebih satu bulan lalu kita telah berdiskusi tentang pandangan Peter L Berger dalam bukunya, Revolusi Kapitalis. Ia menolak secara mentah-mentah pandangan yang dikemukakan oleh Marx, sampai-sampai ia mengeluarkan 50 proposisi dalam bukunya itu. Kita tidak tahu apakah yang dikeluarkan Berger itu sebagai upaya mempertahankan kepentingan yang ada pada dirinya dan kolega-koleganya ataukah memang, karena pengamatan intelektualnya terhadap perkembangan masyarakat. Ia seolah-olah menyimpulkan bahwa kapitalismelah yang membangun sejarah kemanusiaan walaupun dalam banyak hal kapitalisme itu mendapat banyak kritik dan cacian. Namun, sebaliknya ia pun mengatakan bahwa sosialisme hanya sebagai mitos saja, karena paham inilah yang dianggap sebagai satu-satunya paham yang mampu membebaskan manusia. Karena dalam teori yang mendasari sosialisme itu terdapat unsur-unsur yang bernuansa humanis, sedangkan pada prakteknya paham ini mengandung banyak pertentangan dengan nuansa-nuansa humanis yang terkandung dalam teorinya itu. Dengan demikian, dapatlah dipahami jika ia mengatakan bahwa sosialisme adalah sebuah mitos, dan sebaliknya ia mengatakan juga bahwa kapitalisme tidak mampu membangun mitos dari dirinya sendiri. Seharusnya memang kita bisa memahami mengapa Berger berbicara demikian lantangnya. Kita tidak perlu mengatakan bahwa ia salah atau ia benar, karena dalam bukunya itu tampak berusaha menerangkan realitas empiris yang ia amati. Kebangkitan kapitalisme di Asia Timur terutama Jepang, menurutnya, jauh dari ungkapan-ungkapan yang diramalkan oleh Marx. Sehingga, agak sulit untuk menggeneralisasikan ramalan perkembangan kapitalisme jika kita memakai pisau analisisnya Marx. Dari perkembangan sejarah yang kita lihat, ternyata manusia mengerjakan sesuatu tidak harus mengetahui bahwa yang dikerjakannya itu benar. Tetapi, cukuplah menganggap lebih benar dari keadaan sebelumnya, walaupun pada kenyataan empirisnya harus diakui bahwa banyak hal yang masih harus diperbaiki, atau bahkan ditolak sama sekali. Itulah yang terjadi pada masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis dan juga pada masyarakat kapitalis ke masyarakat sosialis. Dan menurut saya, inilah salah satu misteri yang terdapat pada manusia. Saya tidak akan membela siapa pun, karena saya tidak ingin terperangkap oleh salah satu pikiran mereka. Kalaupun saya sekilas tampak membela mereka, itu bukanlah, karena keegoisan saya mempertahankan itu, namun lebih, karena pikiran-pikiran itu sesuai dengan proses berpikir yang sedang berkembang dan tumbuh dalam diri saya. Sehingga, saya ingin mengatakan pada Anda, janganlah Anda terkejut seandainya pada suatu saat nanti Anda melihat beberapa kontradiksi yang terjadi pada pikiran-pikiran saya sendiri. Saya adalah seorang muslim yang sedang mencari dan belajar memahami manusia dan masyarakat. Saya memang sedang belajar untuk memenuhi syarat-syarat agar saya mampu menilai kebenaran secara lebih mendekati. Namun, saya pun ingin bertindak secepatnya menyelesaikan kemiskinan dan kehancuran moral yang terjadi pada masyarakat kita, karena memang sedikit banyak saya sudah memiliki syarat-syarat itu. Mungkin, karena pengetahuan saya akan syarat-syarat itulah yang menyebabkan saya harus mendekam sekian lama di dalam penjara ini. Tetapi sekali lagi, saya tidak akan menyerah dan saya ingin terus memperdalam pengetahuan akan syarat-syarat itu dan sekaligus saya ingin bertindak. Saya pun berharap agar Anda bertindak sesuai dengan pengetahuan syarat-syarat yang sudah Anda miliki. Untuk sementara, akan saya cukupkan dahulu surat ini dan mudah-mudahan kita bisa lanjutkan di lain waktu. Namun, sebelum itu, saya ingin mengatakan pada Anda bahwa kita sedang berdiri dalam suatu kerangka sejarah yang rumit. Bukan perdebatan yang akan mengubah sejarah, tetapi tangan manusia yang memahami sejarahlah yang akan mengubahnya. Wassalamu’alaikum wr. wb. Sahabatmu, Moh Jumhur Hidayat |
| < Prev | Next > |
|---|






