Penjara Sukamiskin, Bandung, 16 Februari 1991 Dear Nyonya Erwin Subiandhono Assalamu’alaikum wr. wb. Surat Nyonya sudah saya terima dan saya agak terkejut atas kejujuran Nyonya ingin mengusahakan agar bersikap “ketimuran”. Saya pun merasa terharu, karena keingintahuan Nyonya yang cukup besar akan masalah-masalah sosial di Indonesia.
Dari surat Nyonya, terungkap bahwa Nyonya ingin kembali lagi seperti dahulu ketika kita bisa berkumpul sekeluarga. Mungkin ungkapan itu cukup “manusiawi”, tetapi bukan ungkapan yang menunjukkan kegandrungan akan perubahan. Berbeda dengan binatang, manusia memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan yang disadari. Sehingga, kalau saya kembali kepada ungkapan Nyonya itu, maka menurut saya, itu bukan ungkapan manusiawi yang sesungguhnya. Banyak kemunduran yang terjadi dalam masyarakat kita, karena kesalahpahaman ini. Memang manusia cenderung untuk mempertahankan suatu status-quo. Apalagi jika status-quo itu berlimpah dengan kesenangan. Orang tertindas pun memiliki kecenderungan untuk mempertahankan ketertindasannya itu, karena ia tidak tahu bahwa yang terjadi pada dirinya adalah suatu bentuk ketertindasan. Inilah yang kemudian dikatakan oleh Paulo Freire sebagai takut akan kebebasan (fear of freedom). Sehingga, jika Nyonya ingin dekat dengan perubahan, maka Nyonya haruslah mulai sekarang meninggalkan impian-impian ke belakang yang tidak memberikan arah untuk mencapai masa depan. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus melupakan sejarah. Namun, sebaiknya sejarah bukan kita pakai untuk membuat kita sedih atau bangga akan masa lalu, tetapi justru kita harus memahami sejarah sebagai bentuk perjalanan perubahan yang terjadi pada umat manusia. Dan sudah tentu, kita akan mengambil banyak pengalaman dari sejarah untuk kemudian meraih masa depan yang gemilang.
Mengenai masalah “ketimuran” yang Nyonya ungkapkan itu, saya merasa sedikit ada keganjilan, karena ini juga berkesan konservatif atau antiperubahan. Saya tidak setuju kalau Nyonya mengatakan akan bersikap ketimuran yang betul-betul ketimuran. Namun, sebaliknya, saya juga tidak setuju dengan ungkapan yang mengharuskan kita bergaya hidup kebaratan. Dan saya sangat setuju dengan ungkapan agar kita bersikap proporsional dalam memandang manusia. Kalau Nyonya melihat sedikit ke belakang tentang sejarah ketimuran khususnya yang terjadi pada bangsa kita lalu memahaminya secara lebih seksama, mungkin Nyonya akan mencabut kembali ungkapan Nyonya pada surat yang terdahulu itu dan kemudian membuangnya jauh-jauh.
Sering kita mendengar perkataan dari orang-orang “arif” agar kita bersikap ketimuran. Ungkapan ini sangat normatif, sehingga jika kita tidak kritis menangkapnya, maka kita akan terjerumus ke dalam jurang kebodohan. Ungkapan “ketimuran” ini bisa bermakna bermacam-macam dan tidak sedikit orang memakai kata-kata ini, karena takut kepentingannya terganggu. Bukankah karena alasan ketimuran ini kita tidak diperbolehkan berdemonstrasi, karena dianggap bertentangan? Bukankah karena alasan ketimuran ini masyarakat kita menjadi anti-kritik? Bukankah karena alasan ketimuran ini bangsa kita harus menundukkan kepala kepada orang-orang Barat? Bukankah karena alasan ketimuran ini masyarakat kita kemudian cenderung mempertahankan feodalisme?
Kadang saya merasa aneh dengan sikap bangsa kita yang senantiasa bangga dengan adat ketimurannya yang katanya, membuat menarik orang-orang Barat. Menurut saya, orang Barat menyukai bangsa kita, karena timah, tembaga, minyak, atau berbagai sumber daya alam yang terdapat pada tanah air kita. Sebaliknya, dan ini saya anggap suatu kebodohan, masyarakat kita menyukai Barat, karena bikininya, diskotik, kumpul kebo, mobil mewahnya, atau segala sikap yang dianggapnya “modern”. Inilah kebodohan orang-orang Timur yang perlu kita hilangkan. Sekali lagi, saya bukan anti Timur atau anti Barat, namun saya hanya ingin meluruskan persoalan yang sebenarnya, karena saya menolak pengeksploitasian manusia dalam bentuk apa pun.
Tentang keadaan situasi sosial politik yang Nyonya tanyakan itu, saya pikir, itu tidak berbeda jauh dari apa yang saya utarakan itu. Karena sedikit banyak kita bisa menariknya dari sebab-sebab tersebut. Cukuplah saya mengatakan bahwa masyarakat kita saat ini masih bergelimang dengan kebodohan, karena saluran-saluran untuk meraih kegemilangan itu tertutup rapat. Sebab, kalau tidak ditutup, dianggap dapat menganggu. Jika semua kekuatan perubahan yang ada pada masyarakat kita tetap seperti sekarang ini, maka janganlah Nyonya bertanya perkembangan masyarakat kita, baik dari sisi konstelasi politik yang terdapat pada elite kekuasaan maupun penjual bakso yang mungkin sering melewati rumah Nyonya.
Dalam surat itu, Nyonya juga mengatakan bahwa Nyonya ingin hidup yang mengarah kepada ke-Islam-an. Terus terang, saya merasa salut dengan ucapan seperti ini, karena saat ini banyak wanita yang merasa malu dengan prilaku yang dituntun seperti dalam Islam. Mereka lebih bangga jika hidup kebaratan yang katanya, dianggap modern. Sungguh mereka itu selayaknya diberi pengertian yang seksama tentang arti masyarakat modern itu. Karena mereka sering salah paham dengan arti masyarakat modern ini.
Telah banyak dirumuskan pengertian masyarakat modern oleh para ahli pikir. Namun, ternyata pendapat para ahli itu sangat jauh dengan pengertian modern yang biasanya dipakai oleh pemuda-pemudi atau masyarakat kita. Saya hanya bisa mengatakan kasihan kepada mereka itu. Kalaupun tampak pada permukaan, kehidupan yang hedonis itu dianggap modern. Semua itu sebenarnya hanyalah merupakan salah satu efek samping dari cara berpikir modern yang berlebih-lebihan.
Sebagai contoh, mungkin Nyonya bisa membayangkan fungsi sebuah kendaraan yang tidak lain hanyalah untuk memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Karena tuntutan masyarakat modern yang bekerja lebih sistematis, terorganisir, dan efektif untuk mendukung kegiatan ini diperlukanlah kendaraan. Namun kenyataan yang berkembang kemudian, kendaraan bukanlah merupakan alat transportasi, tetapi lebih kepada pemenuhan kepuasan murahan agar dipandang lebih bergengsi, karena mampu membeli mobil mewah dan mahal. Dengan memiliki mobil mewah dan mahal ini, berarti ia disebut hidup lebih modern. Bukankah ini suatu hal yang lucu dan menggelikan? Namun, perlu juga Nyonya ketahui bahwa fungsi-fungsi yang diputarbalikkan ini sengaja dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menarik keuntungan semata.
Kalau Nyonya ingin menjadi lebih modern, menurut saya, adalah bagaimana Nyonya menciptakan agar kendaraan-kendaraan umum yang ada sekarang yang sudah tidak nyaman lagi, baik dari sisi keamanan dan kenyamanan, maupun sisi jumlah dan trayeknya ditingkatkan sebaik-baiknya. Dengan begitu, masyarakat kita bisa kembali memfungsikan kendaraan tersebut pada fungsi yang sebenarnya dan proporsional. Kalau saja Nyonya memiliki uang untuk sedikit melihat negara-negara yang dianggap memiliki masyarakat modern, seperti di negara-negara Barat, tentu Nyonya akan terkejut melihat kendaraan-kendaraan umum yang begitu terawat baik dan banyak digunakan masyarakat di sana. Dengan demikian, jelaslah bahwa sudah saatnya Nyonya mengusap dada melihat “kebodohan” pemuda-pemudi kita.
Hal lain yang terkesan berlebihan dalam penafsiran adalah soal emansipasi. Katakanlah dalam masyarakat modern dibutuhkan kesederajatan antara wanita dan pria, karena dalam masyarakat primitif wanita dianggap sebagai warga negara kelas dua atau tersubordinasi oleh kaum pria. Saya setuju dengan pendapat ini, namun dalam batas-batas yang masih proporsional, sehingga tidak perlu mengganggu kehidupan sosial lainnya.
Untuk menjelaskan lebih jauh, di Barat ada yang disebut dengan Woman’s Lib, kepanjangan dari Women’s Liberation. Dalam gerakan ini terdapat golongan paling ekstrem yang disebut sebagai gerakan feminis radikal. Mereka ingin meniadakan sama sekali ketergantungannya kepada kaum pria hingga dalam kehidupan seksualnya sekalipun. Mereka menganggap bahwa pemenuhan hasrat seksual tidak perlu harus dengan pria, tetapi bisa dengan sesama wanita. Gerakan ini sangat didukung oleh suatu penemuan dalam ilmu seksual yang mengatakan bahwa puncak kenikmatan seksual bukan bersifat vaginal melainkan cukup dengan memberikan rangsangan pada bagian permukaan vagina saja yaitu pada daerah klitoris (klentit). Sehingga, kenikmatan seksual bisa dilakukan oleh sesama wanita.
Tak ada kata paling tepat untuk mendeskripsikan keadaan ini selain konsekuensi yang sengaja dilebih-lebihkan dari tumbuhnya suatu masyarakat modern tadi. Dan kita, sebagai muslim, tentunya tidak boleh melakukan hal yang berlebihan, karena sejak 14 abad yang lalu kita telah diajarkan agar hidup tidak berlebihan, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berlebihan. Kita hanya menginginkan proporsionalitas.
Itulah kira-kira gambaran yang perlu saya sampaikan kepada Nyonya agar Nyonya bisa memahami kehidupan wanita secara Islami. Kehidupan agamis dengan tanpa harus menanggalkan rasio dan akal budi Nyonya. Tentu Nyonya akan mempunyai kenikmatan tersendiri dalam melakukan sesuatu yang terlebih dahulu telah Nyonya pahami dan sadari. Nyonya sudah saatnya untuk menerapkan ajaran Islam bukan dengan cara mutlak dogmatis, tetapi dengan cara pemahaman intelektual yang memang sedikit banyak sudah Nyonya miliki itu.
Demikian tanggapan saya tentang hasrat Nyonya yang ingin bersikap ke-Islam-an. Semoga dengan pengantar ini Nyonya bisa mencari fakta-fakta lainnya.
Sepintas tadi saya telah menggambarkan pula keadaan masyarakat kita. Memang sungguh mengkhawatirkan. Tetapi saya berharap Nyonya jangan khawatir terhadap diri saya, karena insya Allah saya bisa menjaga diri walau dalam situasi apa pun. Lagi pula pada suatu saat pasti saya akan bebas walaupun dengan situasi di luar penjara yang hanya sedikit lebih baik daripada dalam penjara. Namun, saya tetap bersemangat memperjuangkan tumbuhnya kekuatan masyarakat baru di negara ini, yang mampu melanjutkan perjuangan ke arah kesejahteraan rakyat. Kekuatan masyarakat yang tidak membeo saja terhadap doktrin-doktrin dan angan-angan murahan yang menyesatkan dan menghipnotis.
Sebelum saya sudahi surat ini, saya ingin menegaskan kepada Nyonya bahwa sebaiknya Nyonya banyak belajar memahami persoalan bukan hanya pada permukaannya saja, tetapi justru pada substansinya.
Wassalamu’alaikum wr. wb. Best Wishes,
Moh Jumhur Hidayat
NB: Tolong sampaikan salam saya untuk Mas Erwin. |