| Dalam Kesendirian ada Setan |
|
|
|
| Friday, 01 March 1991 | |
|
Penjara Sukamiskin, Bandung, 25 Februari 1991 Dear Yulianti Andrini (bukan nama sebenarnya) Assalamu’alaikum wr. wb. Ada keterasingan di antara saya, Anda, dan teman-teman kita. Begitu kira-kira yang saya rasakan sekarang ini. Perbincangan yang kita bangun seakan terhalang oleh tabir. Memang tabir itu saat ini masih tipis, namun itu tetap berbahaya, karena ia mempunyai kecenderungan untuk menjadi tebal dan menguat. Sehingga, bukan saja menyebabkan kita tidak bisa membangun perbincangan, tetapi malah membuat kita menjadi manusia yang saling mencurigai. Mungkin Anda terkejut menerima surat ini, karena Anda pun sudah merasakan adanya tabir itu. Sampai saat ini saya masih berusaha untuk menghentikan penebalan tabir itu. Kalau bisa, bahkan merobeknya. Surat ini sebenarnya adalah salah satu usaha ke arah itu, namun saya tidak tahu apakah justru surat ini akan mempertebal dan memperkuat tabir di antara kita dan teman-teman. Siapakah sebenarnya di antara kita yang berubah? Atau tidak ada yang berubah? Saya sependapat dengan yang terakhir ini bahwa di antara kita tidak ada yang berubah dalam memahami cita-cita. Tetapi, perubahan itu justru terjadi pada relasinya dan mungkin sedikit sekali terjadi pada subyeknya. Dan perubahan relasi inilah yang sesungguhnya dapat disebut sebagai perubahan substansial. Revolusi yang kebanyakan terjadi di dunia bukanlah revolusi terhadap person-personnya. Revolusi itu terjadi pada relasi sosial yang menghubungkan person-person di dalamnya, sehingga dari perubahan relasi sosial inilah fungsi-fungsi manusia di dalamnya turut berubah. Begitu juga dengan kita, lambat laun kita pun akan berubah mengikuti fungsi-fungsi baru yang ditentukan dalam relasi baru itu. Dengan demikian, wajarlah kalau kita dan teman-teman juga akan makin terasing dan tidak saling mengenal. Bukan, saya bukan mengecilkan arti subyektif dan psikologis manusia, sehingga ia hanya menjadi budak saja dalam struktur sosialnya, dan tidak memiliki kebebasan menentukan sikap dan tindakan dalam struktur sosial tersebut. Saya bukan penganut paham strukturalis-radikal. Maksud saya, sebenarnya hanya ingin mengatakan kepada Anda, jika kita tidak menyadari diri kita sebagai manusia yang hidup dalam suatu relasi sosial yang kompleks, maka pengaruh relasi itu terhadap kita akan makin besar. Sehingga, kita menjadi budak-budak struktural. Jalan untuk menyelamatkan agar kita tidak menjadi budak ialah menyadari secepatnya bahwa kita adalah makhluk yang mudah terpengaruh. Organisasi dapat dilihat dari cita-cita, ukuran dan kerapatannya. Mungkin dari sini kita bisa mengevaluasi apa yang telah kita lakukan. Untuk cita-cita, saya rasa tidak pernah lagi kita persoalkan, apalagi kita ragukan. Saya tidak tertarik untuk memulai dengan ukurannya, tetapi justru dengan kekuatan sinergisnya, karena memang yang sangat menentukan adalah kekokohan organisasi. Dengan kekuatan organisasi, maka ukuran organisasi pun niscaya bisa kita peroleh. Menurut saya, semenjak berlakunya NKK/BKK, organisasi kemahasiswaan tidak pernah memiliki kekuatan lagi, sehingga mudah sekali hancur jika menghadapi gangguan. Apalagi gangguan sebesar yang kita hadapi saat ini. Kekuatan organisasi kemahasiswaan saat ini, menurut saya, hanya mampu memanggul beban penyelenggaraan festival musik jazz atau rock atau pameran busana dan bukan untuk memanggul suatu cita-cita yang besar dan mulia. Bisa jadi selama ini kita melakukan kesalahan, karena kita sangat berharap banyak pada organisasi kemahasiswaan untuk mencapai cita-cita besar dan mulia. Maka, wajarlah kalau kemudian kita kecewa dan terus menemui kekecewaan. Untuk itu, agar kita tidak kecewa terus-menerus, maka harapan itu sebaiknya janganlah kita letakkan lagi pada urutan pertama. Sedikit kita geser saja pada urutan-urutan berikutnya. Namun, itu bukan berarti organisasi kemahasiswaan tidak dihidupkan lagi. Tetap dihidupkan, tetapi sebaiknya dipikul oleh mahasiswa yang masih berkompeten. Sedangkan kita cukup sebagai pendukung setia, karena memang waktu jualah yang menghendaki ini. Kalau hal ini kita lakukan, mudah-mudahan akan menjadi suatu revitalisasi bagi kita. Dengan demikian, Anda, saya, dan teman-teman tidak akan lagi merasa kecewa. Sebaliknya, justru akan makin mendekatkan kita kepada cita-cita itu. Hanya tinggal beberapa bulan lagi kita dan teman-teman akan makin berpisah. Anda sebentar lagi akan lulus dan menjadi seorang ibu. Tetapi, ini bukan berarti bahwa kita benar-benar berpisah, karena setidaknya kita akan tetap dipersatukan oleh suatu semangat mencapai cita-cita yang sama. Cita-cita melihat keadaaan masyarakat yang terbebas dari penindasan dan kesewenang-wenangan, baik yang tampak oleh mata kita maupun tidak. Setelah sekian lama kita berkenalan, saya sangat yakin bahwa dalam situasi apa pun Anda akan terus menjadi manusia rasional. Anda tidak akan pernah luput memandang penindasan terhadap manusia sekecil apa pun dan setersembunyi apa pun penindasan itu. Dan mungkin Anda akan terus berusaha agar semua orang di sekeliling Anda melakukan hal yang sama dan kemudian bersama-sama menghancurkan ketidakadilan itu. Ketika kita berada di medan pertempuran, kita tidak pernah merasa bosan, karena saat itu sang emosilah yang sedang menguasai kita. Namun sebaliknya, ketika kita sedang sendiri, kita sering merasa bosan dan jenuh, karena saat itu sang emosi kita sudah digantikan lagi oleh sang rasio. Dan menurut saya, kesendirian itulah yang seharusnya makin menjadikan kita dewasa dalam bertindak. Tetapi, Anda pun mungkin tahu bahwa dalam kesendirian itu jualah setan akan datang pada diri kita dan kemudian menghasut agar kita mengeluh kemudian menjadi ragu-ragu terhadap cita-cita yang pernah kita tanamkan itu. Dengan demikian, merupakan suatu tindakan yang rasional jika kita berhati-hati dalam kesendirian. Apalagi jika kesendirian itu berlangsung lama dan membosankan. Saya masih terkesan dengan ucapan Anda ketika kita berbincang-bincang saat Anda datang ke “istana pengasingan” ini. Anda mengatakan bahwa yang terpenting bagi manusia adalah kejujuran. Sedikit pun saya tidak akan menolak apa yang Anda ucapkan itu, namun saya masih perlu penjelasan tentang arti kejujuran itu sendiri. Dengan cara meraba-raba, saya menemukan beberapa pertanyaan yang menyangkut kejujuran itu. Apakah kejujuran itu akan sama bagi setiap orang? Apakah kejujuran itu bergantung kepada situasi sosial tempat manusia hidup? Bagaimana kita bisa menilai bahwa suatu tindakan itu jujur atau tidak jujur? Menurut saya, sangat berbahaya jika kita mengatakan bahwa yang terpenting bagi manusia itu adalah kejujurannya tanpa kita melihat lebih jauh di mana manusia itu hidup dan berkembang. Kejujuran dalam suatu masyarakat yang di dalamnya terdapat manusia yang bertindak saling mengeksploitasi adalah justru suatu ketidakjujuran. Mungkin, jika saat ini kita melakukan kejujuran pun, itu hal yang berbahaya. Kejujuran tidak bisa dilepaskan dari kesadaran seseorang. Anda pun mungkin pernah mendengar bahwa kesadaran seseorang sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kalau Anda bertanya kepada saya apakah keinginan saya sekarang, maka saya akan menjawab bahwa saya membutuhkan sekolah yang baik, rumah dan mobil mewah, calon istri yang cantik, lincah dan gesit seperti yang dikatakan Ebiet G. Ade dan sebagainya. Sebaliknya, jika Anda bertanya kepada saudara-saudara kita di Ethiopia yang sedang kelaparan, maka kejujuran mereka adalah mendapatkan sesuap nasi untuk dapat hidup pada esok hari, pada esok hari, dan pada esok harinya lagi. Apakah kejujuran seperti itu perlu kita pertahankan? Dengan tegas, saya dan juga mungkin Anda akan mengatakan tidak! Sangat disesalkan memang, karena kejujuran saat ini hanya diterjemahkan sebagai mengikuti suatu relasi sosial tertentu yang telah berlaku dan tertanam dalam masyarakat kita tanpa peduli apakah kejujuran itu hidup dalam relasi sosial yang menindas dan irasional ataupun tidak. Seorang monopolis akan merasa dirinya sangat jujur jika usahanya itu tidak melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku. Sebaliknya, seorang buruh yang mencuri “pakaian dalam” akibat upahnya tidak dibayarkan secara penuh dianggap melakukan ketidakjujuran, sehingga perlu dihukum hingga bertahun-tahun. Inilah yang akan terjadi jika kita begitu lugu terhadap arti kejujuran. Dan inilah arti kejujuran yang dipahami oleh masyarakat kita yang lugu dan tertindas itu. Maka, wajarlah jika masyarakat kita sangat sulit berubah. Kejujuran seperti itu berarti membenarkan adanya penindasan dan tindakan irasional serta tidak sedikitpun membawa kita ke arah perubahan. Sehingga, kalau kita menjadi orang jujur saat ini, berarti kita adalah manusia yang tidak ingin berubah dalam ketidakrasionalan. Jika kebetulan dalam struktur masyarakat kita sekarang ini kita termasuk dalam kategori penindas, maka kalau kita menjadi orang yang jujur saat ini berarti kita akan tetap terus menjadi penindas, dan bahkan akan lebih meningkatkan intensitas penindasannya. Semua itu tidak pernah kita sadari, kecuali jika kita mau berpikir dan mau memahami persoalan sampai ke akar-akarnya. Masih ingatkah Anda, ketika saat-saat perbincangan kita memuncak, lonceng “istana pengasingan” ini berbunyi. Ketika itu kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa kecuali berdiri dari tempat duduk dan berpisah di sekitar pintu penjagaan. Suara lonceng di sini memang sangat berkuasa, karena seluruh kekuatan birokrasi di tempat ini sudah dilimpahkan kepada suara lonceng itu. Namun biarlah, karena setidak-tidaknya perbincangan kita yang tidak selesai itu telah mengantarkan saya kepada suatu renungan yang sangat berharga. Dan saya mengucapkan terima kasih atas perbincangan yang tidak selesai itu. Kita seperti orang-orang yang sedang berlari di pinggiran pantai; Menatap jauh ke depan tanpa tahu kapan akhir berlari itu. Jika sekarang kita bercermin, maka akan kita dapati wajah-wajah yang lelah, pucat, dan kuyu. Manusia memang tidak pernah mengetahui akhir dari suatu sejarahnya. Tetapi kita pun harus bangga, karena dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian itu manusia masih terus bekerja. Dengan wajah lelah dan pucat manusia masih saja mengejar suatu kebahagiaan pada hari depan, walaupun kebahagiaan itu sesuatu yang absurd yang setelah berhasil diraih, sangat mungkin untuk disesali. Namun, justru karena kerja itulah yang menyebabkan makhluk itu disebut manusia, yaitu makhluk yang memiliki sejarah dan peradaban. Sebelum saya mengakhiri surat ini, saya ingin meminta maaf kepada Anda, karena saya telah membuat Anda sibuk meminjamkan buku-buku dari Pak Kisdarjono kepada saya. Ini memang kepentingan pribadi saya. Walaupun begitu saya berharap agar Anda jujur, apakah Anda keberatan atau tidak. Jika Anda memang keberatan, saya akan menghargai keberatan Anda itu. Sebaliknya, jika Anda tidak keberatan, hanya beribu terimakasih yang dapat saya katakan kepada Anda. Namun, sekalipun Anda tidak jujur, saya dapat memahami Anda. Mungkin Anda perlu tahu bahwa buku-buku saat ini bagi saya adalah teman-teman setia yang setiap saat bisa diajak berdiskusi. Buku membawa saya seolah-olah hidup di suatu tempat yang ramai, sehingga saya tidak akan pernah lagi merasa sendiri, apalagi kesepian... Wassalamu’alaikum wr. wb. Sahabatmu, Moh Jumhur Hidayat |
| < Prev | Next > |
|---|






