| Mahasiswa, Jangan Hanya Bicara |
|
|
|
| Thursday, 18 July 1991 | |
|
Penjara Sukamiskin, Bandung, l 8 Juli 1991 Assalamu’alaikum wr. wb. Sebelumnya izinkan saya mengungkapkan rasa kekaguman saya kepada Anda. Karena selama ini saya melihat Anda begitu serius mengurusi kemahasiswaan, baik untuk daerah Bandung maupun untuk kampus Anda sendiri. Semoga keseriusan Anda bisa dipertahankan sampai waktu-waktu yang akan datang. Kemahasiswaan di Indonesia sekarang memang sangat menyedihkan. Mereka telah kehilangan orientasi dan tidak lagi mengenal dirinya, apalagi sadar akan posisi dirinya. Ilmu pengetahuan sebanyak apa pun yang dimiliki mahasiswa bukanlah berarti mereka sadar akan dirinya, bahkan justru bisa memalingkan dari dirinya sendiri. Mungkin Anda pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Muthahhari, seorang ulama dan ahli pikir dari Iran, dalam bukunya Manusia dan Agama, bahwa ilmu dan filsafat tidaklah menjamin seseorang dapat menyadari dirinya. Ia membuktikan hal ini dengan mengatakan bahwa banyak fiolosof yang tidak sadar akan dirinya, sementara banyak orang buta huruf yang justru sadar akan dirinya.Dalam bukunya itu Muthahhari tampak bersepakat dengan Gandhi, seorang tokoh humanis dari India, yang mengkritik Barat dengan mengatakan bahwa apalah artinya kemajuan dengan kemampuan menaklukkan dunia jika nyata-nyata manusia kehilangan jiwanya. Berbagai kemajuan yang dicapai Barat, menurut Gandhi, sejalan dengan kealpaan, pemanjaan diri, dan bukan penemuan diri. Jadi jelaslah sekarang bahwa peningkatan pemahaman diri tidaklah sebanding dengan peningkatan ilmu seseorang. Mungkin Anda bingung dengan logika itu, lalu memunculkan pertanyaan, bagaimanakah agar kita mampu mengenal diri kita? Jawabnya tiada lain adalah keyakinan akan cita-cita universal kemanusiaan, sedang kita yang mengaku beragama, cita-cita itu harus kita tambah lagi dengan keimanan. Mudah-mudahan dengan cara ini kita akan selalu hidup dalam “misi” yaitu misi yang mempunyai arah dan makna. Tentunya jika cara ini telah kita tempuh, kemudian kita mendalaminya dengan memakai ilmu, maka semakin dekatlah kita dengan diri kita. Dan salah satu upaya yang harus kita lakukan kepada teman-teman kita yang katanya sudah berilmu itu ialah dengan memberikan arah dan maknanya saja. Memberikan makna kepada orang lain jauh lebih sulit daripada kepada diri sendiri. Karena kita tidak memiliki otoritas apa pun terhadap orang lain. Karena itu, perjuangan ini akan memakan tenaga dan waktu untuk melakukannya. Namun, seperti sudah saya katakan tadi, kita tidak akan pernah lelah dengan usaha itu, karena kita hidup memiliki misi yang berarah dan bermakna. Kesalahan besar yang dilakukan oleh manusia yang mengaku dirinya pejuang adalah keinginannya yang terburu-buru melihat hasil. Padahal kerja yang dilakukannya tidaklah sebanding dengan cita-cita besar yang diharapkannya. Karena itu, wajarlah jika hari demi hari yang akan kita temui adalah kekhawatiran dan kekecewaan. Menurut saya, manusia-manusia yang mengaku dirinya berjuang, tetapi selalu terburu-buru ingin melihat hasil yang besar dengan kerja sedikit, maka saya akan menggolongkannya menjadi dua bagian. Pertama, para pengkhayal absolut, yaitu orang-orang yang ingin melihat hasil yang besar itu untuk kemanusiaan. Kedua, para oportunis sejati, yaitu orang-orang yang ingin melihat hasil yang besar itu untuk kepentingan dirinya. Saya yakin, bahwa Anda tidaklah masuk dalam kedua golongan itu. Tetapi, Anda masuk ke dalam golongan manusia-manusia yang sabar, tekun, dan gigih dalam mencapai cita-cita besar. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh terburu-buru. Jika melihat kezaliman di hadapan kita, maka kita harus terburu-buru mengatasinya dengan tetap serius dan niat yang suci. Mungkin sekarang Anda dapat melihat, berapa banyak pemuda atau katakanlah mahasiswa di Indonesia yang merasa terburu-buru untuk mengatasi kezaliman di hadapannya. Mungkin terlalu ideal kalau saya mengharapkan agar mahasiswa mau peduli dengan masyarakat di sekitarnya yang terzalimi. Untuk diri mereka yang terzalimi saja, mereka tidak merasa perlu untuk terburu-buru, atau bahkan tidak pernah merasa terzalimi. Katakanlah bahwa sekarang Anda tidak bisa membangun otonomi kampus Anda, tempat kedaulatan tertinggi kemahasiswaan dipegang langsung oleh mahasiswa. Berapa banyak mahasiswa yang ingin memperjuangkan ini, padahal jelas-jelas untuk kepentingan mereka? Mereka tidak pernah merasa bahwa batasan-batasan yang sengaja diciptakan oleh kelompok status-quo kepada diri mereka sebagai suatu kezaliman. Kenyataan ini tidak lain, karena kebanyakan mahasiswa sekarang tidak mengenal atau sadar akan dirinya dan juga peran dan posisinya di tengah-tengah masyarakat. Sepintas mungkin menjadi jelas bagi Anda, ternyata perjalanan kita masih sangat jauh. Namun, sedikit saja terbersit dalam pikiran kita bahwa kita akan berhenti berjalan, maka itu sudah merupakan pengkhianatan, paling tidak terhadap diri kita sendiri. Untuk menghindari munculnya pikiran-pikiran kotor itu, seperti sudah saya singgung tadi, kita tidak perlu terlalu terburu-buru dalam melihat hasil. Sesungguhnya setiap langkah yang kita buat sekecil apa pun langkah itu asalkan tetap pada suatu niat memperjuangkan keadilan, maka itu sudah merupakan hasil besar bagi diri kita. Karena sikap-sikap seperti itu sedikit demi sedikit, hari demi hari membuat keyakinan diri kita bertambah dan bertambah. Bertambahnya keyakinan bahwa kita berada pada jalan yang benar adalah suatu hasil besar yang tidak bisa diraih oleh siapa pun kecuali oleh orang-orang yang ingin mengenal dirinya. Beberapa kali kita pernah berdiskusi, bagaimana caranya menggiatkan kemahasiswaan di Bandung atau katakanlah di kampus. Persoalan ini sebenarnya adalah persoalan klasik yang ditemui oleh mahasiswa yang memiliki kepedulian sosial. Pada setiap kampus, setiap zaman, di Indonesia, problem ini pasti akan muncul. Memang benar kita harus mengakui bahwa sekarang inilah aktivitas kemahasiswaan sedang mengalami kemunduran yang paling jauh jika dibanding dengan sebelumnya. Perjuangan membangun kemahasiswaan saat ini paling banyak menemui hambatan. Semua sisi-sisi sudah tertutup rapat. Di kampus mahasiswa sepenuhnya berada dalam kontrol rektorat, sedang di luar kampus mahasiswa dikontrol oleh aparat negara (state-apparatus). Yang lebih mengerikan adanya pengorientasian secara besar-besaran oleh lingkungannya. Rektorat dan state-apparatus adalah hambatan yang sudah tidak aneh lagi kita jumpai. Namun, menurut saya, justru yang paling berbahaya adalah dikontrolnya mahasiswa oleh lingkungan, yang mana seharusnya kitalah yang mengontrol lingkungan. Bukan sejarah yang membentuk kita, tetapi kitalah yang harus membentuk sejarah. Atau, dengan kata lain, kita tidak ingin menjadi obyek dalam sejarah, tetapi kita ingin menjadi subyek. Tantangan yang berwujud lebih mudah kita hadapi, karena kita bisa mengetahui gerak langkah mereka. Tantangan-tantangan baru yang diciptakan mereka akan ditanggapi, tentunya jika kita waras, oleh strategi-strategi baru dan bukan dengan ketakutan-ketakutan baru. Namun, sebaliknya tantangan yang tidak berwujud akan sulit kita hadapi, kecuali jika kita mau serius berpikir kearah itu. Kenyataan bahwa kita tidak pernah sadar bahwa lingkungan sedang mengubah orientasi kita secara besar-besaran adalah bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa tantangan yang tidak berwujud adalah jauh lebih sulit. Mungkin Anda telah paham, ketidaksadaran kita sedang dalam posisi terzalimi adalah akibat lingkungan tadi. Mungkin Anda pernah mendengar kata-kata “cuci otak”? Ya sekarang ini para pemuda dan mahasiswa Indonesia sedang berada dalam proses pencucian otak yang dilakukan oleh lingkungan. Dan yang perlu Anda sadari lagi, bahwa lingkungan Anda pun berada dalam kontrol manusia-manusia yang memang menginginkan Anda menjadi pasif dan tidak peduli. Kita sering terjebak oleh berbagai perangkap permukaan yang seharusnya tidak perlu kita persoalkan terlalu jauh. Karena, dengan berkutat di situ, kita tidak akan pernah menemui inti setiap persoalan. Mencari inti persoalan sepertinya merupakan kegiatan haram bagi mahasiswa sekarang. Mereka cepat merasa puas dengan hasil yang minimal. Persoalan yang seharusnya besar, mereka anggap kecil, bahkan tidak ada. Kejadian ini memang ada yang mereka lakukan dengan sengaja, karena mereka tidak ingin susah. Namun, ada juga yang memang tidak disengaja, karena mereka tidak mau berpikir. Penggusuran tanah-tanah kaum mustadh’afiin atau upah-upah buruh yang tidak wajar adalah persoalan besar yang seharusnya mereka ketahui. Namun, mereka tidak mau peduli dengan itu, karena mereka tidak mau susah. Bahkan, ada juga di antara mereka yang memang tidak pernah bersentuhan dengan persoalan itu, sehingga mereka tidak menganggap hal itu menjadi persoalan mereka. Tugas kita adalah menunjukkan kepada mereka bahwa ada persoalan besar di hadapan mereka dan persoalan itu penting, karena menyangkut masa depan manusia dan kemanusiaan. Kita sering melihat, betapa banyak mahasiswa yang mengaku dirinya aktivis. Padahal, kenyataannya setelah lulus mereka sama sekali tidak pernah menunjukkan lagi sikapnya sebagai seorang aktivis. Mereka hanya pekerja atau manajer. Cita-cita besar bagi mereka terbatas ketika mereka menjadi mahasiswa saja. Perjuangan membela keadilan adalah tugas sebagai mahasiswa, sedangkan setelah lulus adalah perjuangan pribadi mencari berbagai kesenangan murahan. Kejadian demikian yang terus menerus akhirnya membuat mahasiswa makin absurd dan makin menghilangkan kepercayaan bagi orang lain. Kesalahan ini tidak semata-mata kita tumpahkan kepada si aktivis itu. Sebab ketika mereka menjadi mahasiswa, mereka tidak pernah diajarkan untuk mengenal diri dan lingkungannya. Mereka hanya diajarkan bagaimana caranya berdemonstrasi, berintrik dan bukannya mengenal substansi perjuangan. Mereka hanya diajarkan berbicara dan bukan berpikir. Mereka hanya diperkenalkan kepada persoalan-persoalan yang parsial atau sepenggal-sepenggal dan tidak pernah secara keseluruhan yang sifatnya struktural. Sekarang sedikit banyak kita sudah memahami bagaimana kemahasiswaan di Indonesia. Memahami persoalan dengan tidak mencari jalan keluarnya adalah sia-sia. Saya percaya bahwa setiap saat Anda berpikir dan bertindak untuk mencari penyelesaiannya. Anda tahu bahwa perubahan itu bisa terjadi dengan tangan Anda, karena Anda yakin bahwa Anda ingin menjadi seorang pengemudi sejarah. Semoga. Wassalamu’alaikum wr. wb. Sahabatmu, Moh Jumhur Hidayat NB: Sampaikan salam saya untuk teman-teman yang lain. |
| < Prev | Next > |
|---|






