Moh Jumhur Hidayat arrow Surat-surat dari Penjara arrow Hukum Kita, Tidak Adil dalam Konsep
Saturday, 31 July 2010
 
 
Hukum Kita, Tidak Adil dalam Konsep PDF Print E-mail
Wednesday, 17 July 1991
Penjara Sukamiskin, Bandung, 17 Juli 1991

Dear Ibu Amartiwi Saleh

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya mengucapkan terima kasih kepada Anda, karena perhatian Anda yang begitu besar terhadap saya, terutama pada masa-masa persidangan saya. Jauh sebelum saya disidangkan dalam kasus “5 Agustus”, saya sudah sering mendengar nama Anda. Saya memang belum mengenal Anda dari dekat saat itu. Sebaliknya, sesekali saya sudah mendengar keberanian moral Anda. Sejak itu, walau secara fisik kita belum saling mengenal, secara idealistis setidaknya kita ada kesamaan, terutama sekali ide-ide demokratisasi yang mau tidak mau harus terjadi di Indonesia. Dari sisi usia mungkin saya bisa dikatakan cucu Anda, tetapi dari semangat, Anda seolah lebih muda dari umur saya. Anda tidak pernah merasa lelah dalam berjuang. Dari beberapa kali kasus yang Anda bela, saya melihat banyak kemiripan, yang biasanya bagi manusia yang tidak memiliki semangat, menyebabkan kebosanan. Terlebih dalam urusan penggusuran tanah atau sengketa tanah antara petani dan penggusur. Jarak puluhan, bahkan ratusan kilometer Anda tempuh tanpa keluh. Inilah suatu bukti bahwa semangat, cita-cita, dan keyakinan mampu mengalahkan segalanya.

Betapa bahagianya rakyat Indonesia sendainya seluruh pengacara memiliki mental seperti Anda. Saya yakin seandainya itu terjadi, sedikit banyak hal itu akan memperkecil penyelewengan hukum di Indonesia, karena memang tidak sedikit penyelewengan itu dimulai oleh pengacara. Itu baru dari sisi teknis, belum lagi dari sisi konsep, yang sangat perlu mendapatkan perhatian para ahli hukum. Karena dalam konsep kita sering menemukan ketidakadilan. Mungkin Anda bisa membayangkan, dalam konsep saja kita sering menemukan ketidakadilan, apalagi dalam pelaksanaannya. Itulah kelemahan hukum kita, tidak adil dalam konsep dan sering menyeleweng dalam pelaksanaan.

Saya teringat, betapa semangatnya Anda ketika mempertanyakan pasal-pasal dan undang-undang yang Anda anggap seperti pasal atau undang-undang karet yang bisa melar ke sana ke sini tergantung dari penafsiran sang penguasa. Sejak beberapa tahun lalu Anda sudah menggugat karet-karet itu meskipun belum ada perubahan. Tetapi, Anda terus dan terus menggugat. Mungkin suatu hari Anda akan berdiri lagi di depan sidang untuk menggugat karet-karet itu. Baiklah, kita tunggu saja kejadian itu.

Saya pernah membaca buku yang memandang hukum dari sisi sosiologis, yang mengatakan bahwa adanya hukum merupakan suatu usaha mematikan perkembangan masyarakat. Sepintas ungkapan itu memang terkesan aneh, namun setelah saya berpikir dan melihat realitas-raelitas hukum di negara kita seperti karet-karet tadi, maka semakin tampaklah kebenaran ungkapan itu. Ungkapan itu tidak bersifat umum melainkan kasuistis saja. Ungkapan itu mungkin juga bisa bersifat umum dalam suatu negara totaliter. Jadi ungkapan itu makin menampakkan kebenarannya sebanding dengan tingkat totalitarianisme suatu negara.

Di Bandung sekarang ini orang sedang meributkan persoalan hukum untuk menangani para pelancong liar (baca: pelacur) yang berkeliaran di tengah malam. Biasanya, jika dahulu mereka terjaring hanya dikenakan kurungan paling lama tujuh hari, sekarang mereka bisa sampai enam bulan. Alasan sang hakim dan pendukungnya, menurut saya, sangat dibuat-buat dan tidak beralasan. Jika hanya dikenakan kurungan tujuh hari saja, pihak LP (penjara) belum sempat membinanya, bahkan tinta untuk menulis registrasi pun katanya belum kering. Lucu memang pembelaan seperti itu.

Menurut saya, alasan itu seperti anak-anak di bawah umur yang mencari alasan, karena takut dimarahi orang tuanya, karena pulang terlambat. Alasan itu tidak berhubungan dengan persoalan yang sebenarnya. Saya tidak terkejut mendengar kasus-kasus pembenaran seperti itu, karena memang seringkali terjadi. Banyak persoalan di negara kita dituntaskan bukan oleh jawaban soal itu, layaknya soal pelajaran matematika dijawab oleh pelajaran kesenian. Memang lucu, tetapi kelucuan ini bukan untuk ditertawai, sebaliknya diratapi dan diperjuangkan agar tidak lucu lagi. Karena kelucuan itu banyak mengorbankan manusia dan kemanusiaan.

Mungkin Anda pernah mendengar, persoalan kemiskinan, katanya disebabkan kemalasan. Persoalan tidak berkembangnya koperasi, karena manajemen. Persoalan kejahatan, karena pelaku kejahatan kurang bisa menahan diri. Persoalan demonstrasi menuntut hak dianggapnya melanggar kesopanan. Atau singkatnya dari semua itu, persoalan sosial dijawab dengan persoalan teknis. Hasilnya, seperti tampak dengan jelas di depan kelopak mata kita adalah kesia-siaan! Yang memprihatinkan bagi saya, berapa banyak sudah manusia yang mengaku dirinya ahli hukum, ahli ekonomi, pejuang rakyat, dan sebagainya yang mengetahui hal ini? Memang banyak yang mengetahui hal ini, tetapi cukup sekadar mengetahui. Selebihnya diam, karena ini soal kekuasaan. Dan soal kekuasaan dianggap soal para politikus. Anggapan ini secepatnya harus kita hilangkan, karena akan memperlambat proses demokratisasi. Kita harus menganggap bahwa semua soal yang menyangkut manusia atau sosial adalah juga soal kita, karena kita pun adalah manusia. Jika kita mengatakan bahwa persoalan manusia atau sosial hanya tugas para politikus, maka sesungguhnya ungkapan itu menyatakan bahwa kita bukan manusia.

Anda mungkin sepakat dengan apa yang saya katakan, karena Anda telah sering menemukan keganjilan-keganjilan itu. Saya tidak tahu sampai kapan keganjilan-keganjilan itu akan menghampiri kita. Yang pasti, keganjilan itu akan menghilang sebanding dengan apa yang kita perjuangkan. Kita bukanlah manusia yang hanya bisa menunggu dan melihat perubahan. Sebaliknya, kita harus berdiri di barisan terdepan dalam meraih perubahan itu. Seperti yang sudah berkali-kali saya katakan kepada teman-teman, bahwa perubahan itu bisa terjadi, karena tangan kita.

Tidak sedikit orang yang menertawakan cita-cita kita, karena dianggapnya semua itu hanyalah lamunan belaka yang tidak akan terwujud. Ungkapan seperti itu lebih saya hargai, karena setidaknya ungkapan itu bukan dilandasi oleh niat busuknya, melainkan keputusasaannya. Itu lebih baik ketimbang yang mengatakan bahwa kita hanya membuat-buat saja hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Menurut saya, ungkapan demikian hanya keluar dari mulut manusia tidak waras atau dari manusia yang tidak mau terganggu kepentingannya, karena perubahan yang kita cita-citakan itu.

Setiap manusia yang ingin melakukan terobosan selalu akan dianggap “ aneh”, karena lain daripada yang lain. Itulah yang tercatat dalam sejarah manusia. Namun, tindakan kita selanjutnya bukanlah mundur, karena takut dianggap aneh, tetapi sebaliknya adalah tugas kita menjadikan keanehan itu menjadi kenyataan. Kenyataan itu hanya bisa terjadi jika kita mampu menunjukkan kepada mereka bahwa itu bukanlah keanehan, melainkan suatu cita-cita. Dengan cara ini mudah-mudahan mereka akan memahami dan bersama-sama dengan kita berjuang ke arah cita-cita itu. Tugas ini memang berat dan butuh banyak pengorbanan. Namun, saya tetap yakin bahwa suatu saat kita akan sampai pada cita-cita itu. Kalaupun saya tidak sempat melihatnya, setidak-tidaknya saya pernah berjuang ke arah itu, dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Sebelum saya akhiri surat ini saya ingin berterus terang kepada Anda bahwa berbicara di hadapan Anda sebetulnya saya merasa malu, karena saya baru pada taraf berkata-kata. Kalaupun bertindak, itu hanya minimal sekali. Sementara Anda sudah berpuluh-puluh tahun bertindak sekaligus berkata-kata. Namun begitu, saya akan terus berusaha melaksanakan kata-kata saya, karena saya ingin terus berjuang. Ya, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, itulah yang dikatakan Rendra dalam puisinya...

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Sahabatmu,

Moh Jumhur Hidayat

NB: Salam saya untuk Pak Saleh dan untuk semua staf di LBH Bandung, dan kalau sempat bertemu Pak Harjono, tolong katakan bahwa saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa dirinya.
 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!