Moh Jumhur Hidayat arrow Surat-surat dari Penjara arrow Membangun Tidak Semudah Berkata-kata
Saturday, 31 July 2010
 
 
Membangun Tidak Semudah Berkata-kata PDF Print E-mail
Friday, 26 July 1991

Penjara Sukamiskin, Bandung, 26 Juli 1991

Dear Bung Soebadio

Assalamu’alaikum wr. wb. Sebelumnya saya minta maaf, karena baru sekarang saya sempat menulis surat kepada Anda. Sebenarnya saya punya banyak waktu untuk menulis surat, namun ketika saya ingin menulis, saya kehilangan kata-kata. Saya rasa apa yang saya pikirkan dan yang saya rasakan tentang keadaan masyarakat dan negara ini, sudah lebih dahulu Anda pahami dan rasakan. Saya yakin, kita kecewa dengan keadaan masyarakat serta penyelenggaraan negara sekarang ini. Itulah sebabnya saya melihat Anda begitu bersemangat dan kritis terhadap semua kejadian akhir-akhir ini, terutama dalam rangka mewujudkan demokrasi dan keadilan sosial.

Kekecewaan saya yang paling besar terhadap keadaan ini adalah melemahnya kekuatan masyarakat di satu pihak dan makin menguatnya negara di pihak lain. Menurut saya, keadaan inilah yang mengawali semua kejadian anti-demokratis di setiap lapangan kehidupan. Saya sadar, keadaan ini tidak bisa lepas dari rangkaian sejarah perjalanan negeri ini. Namun, bukan berarti kita harus membenarkan situasi ini dan menyerahkannya pada sejarah. Sejarah bukan untuk diikuti, tetapi untuk diubah. Dan perubahan itu harus menuju pada penyempurnaan manusia dan masyarakat, bukan sebaliknya.

Anda adalah salah satu pelaku sejarah bangsa ini. Sehingga secara meyakinkan Anda sudah memahaminya, baik secara teoretis, maupun secara empiris. Dari sejarah perjalanan bangsa ini yang saya saksikan melalui catatan-catatan sejarah, bangsa ini sering mengalami jatuh bangun. Soekarno pernah mengatakan dalam pidatonya, bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang harus mengalami jatuh bangun (up and down). Namun sayang, bangsa ini lebih sering mengalami jatuh ketimbang bangun.

Soekarno adalah salah seorang yang membangun bangsa ini. Namun, setelah bangsa ini jatuh, ia ternyata menghadapi kesulitan untuk membangunnya kembali. Karena membangun bangsa ternyata tidak semudah berkata-kata. Untuk menumbuhkan semangat kebangkitan revolusi Indonesia, gagasan seperti itu mungkin dapat diterima. Namun, jika kita merenung sejenak dan menanggalkan semua pakaian emosional kita, niscaya kita akan mencabut kembali kata-kata bahwa bangsa itu harus mengalami jatuh bangun. Bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak pernah mengalami kejatuhan, tetapi justru terus menerus bangkit menerobos dan menerobos lagi! Tidak perlu sedikit pun mengalami kejatuhan! Itulah pendapat saya.

Seorang revolusioner sering menganggap dirinya sebagai subyek sejarah, sampai-sampai, karena merasa dirinya sebagai subyek absolut, maka manusia-manusia lain dianggap sebagai obyek. Keadaan ini telah membuatnya membendakan manusia, yang bisa dengan mudah dikurangi atau ditambahkan kuantitasnya. Manusia tidak ubahnya seperti beras dalam karung yang bisa ditambah atau dikurang. Saya akan menolak menjadi seorang revolusioner yang demikian itu, karena saya ingin menjadi seorang revolusioner yang menganggap bahwa semua manusia adalah subyek bagi dirinya, juga subyek bagi masyarakat dan sejarahnya.

Kita memang pernah mengalami masa ketika rakyat memiliki posisi kuat dan seimbang terhadap negara. Yaitu, pada masa demokrasi liberal. Semua saluran untuk mengartikulasikan kepentingan politik tersedia, terutama melalui mekanisme kepartaian dan organisasi masyarakat yang berkembang bebas. Tidak ada batasan-batasan bagi gerakan partai ataupun organisasi masyarakat, asalkan saja tidak terlibat dalam kekerasan bersenjata. Celakanya, dalam periode itu ternyata manusia-manusia yang menjadi pemimpin masih terperangkap oleh ikatan-ikatan primordial yang kaku, atau masih terjebak sektarianisme absolut.

Mereka menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar. Akibatnya, komunikasi antara kepentingan politik untuk membangun bangsa dan negara menjadi terhambat, bahkan tepatnya saling gontok-gontokan. Menurut saya, periode itu adalah periode liberal, tetapi individu-individu di dalamnya masih tradisional. Sehingga, yang terjadi bukan demokrasi untuk mencapai kesejahteraan, tetapi demokrasi yang mengarah pada kehancuran dan menjauhkan kepada identitas. Dalam posisi itu saya sepakat dengan Chandle bahwa musuh demokrasi adalah demokrasi itu sendiri.

Boleh jadi Anda tidak sependapat dengan saya, karena Anda merasakan langsung periode tersebut. Namun, kita tidak bisa menghindari fakta sejarah bahwa demokrasi liberal itu akhirnya mengalami kehancuran. Kalau benar bahwa demokrasi liberal saat itu adalah demokrasi untuk menyempurnakan masyarakat, maka tentunya kehancuran itu tidak bakal terjadi.

Saya tidak mengatakan bahwa periode sesudah demokrasi liberal itu adalah periode yang lebih baik. Periode itu, menurut saya, justru lebih memperburuk situasi, karena terutama berkurangnya kekuatan masyarakat terhadap negara, dan nyata-nyata mengarah kepada diktatorisme, totalitarisme. Situasi ini menjadikan rakyat kita tidak lebih seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Apa kata pemimpin, rakyat menurut saja. Kata pemimpin A, maka rakyat A; kata pemimpin B, rakyat B. Sikap kritis tidak terdapat pada rakyat melainkan hanya pada beberapa gelintir orang saja, terutama yang dekat dan terlibat pada percaturan elite politik. Politik yang dijalankan para pemimpin partai atau negara akhirnya hanya menjadi dogma irasional yang melebihi dogma agama!

Sebaliknya, pada masa sekarang ini, kekuatan rakyat praktis tidak ada. Hal ini sengaja diciptakan melalui mekanisme yang berlangsung lambat laun, tetapi sistematis. Semua saluran untuk mengaktualisasikan dan mengartikulasikan kepentingan disumbat habis-habisan. Pada mulanya memang kita melihat ada reaksi rakyat terhadap adanya grand strategy ini. Namun, karena proses ini berlangsung perlahan dan sistematis, maka reaksi rakyat pun lama-kelamaan tenggelam oleh waktu.

Pada posisi tersebut saya berkesimpulan bahwa Orde Baru telah meraih sukses besar, karena kelemahan posisi masyarakat kita sudah pada tingkat berubahnya kesadaran. Rakyat tidak pernah lagi memandang suatu persoalan sebagai persoalan, bahkan persoalan dirinya sendiri sekalipun. Mereka menganggap semuanya adalah takdir atau kehendak Tuhan. Mereka tidak merasakan lagi hidup dalam batasan-batasan yang mengekang dirinya. Karena itu, mereka sulit diajak berpartisipasi dalam bidang politik. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Perjuangan mengajak rakyat berpartisipasi dalam bidang politik perlu mengalami dua tahap yang berat. Pertama, kita harus membuka saluran-saluran untuk mengartikulasikan kepentingan; dan kedua, kita harus menunjukkan kepada rakyat bahwa saluran itu perlu, karena bisa memberikan masa depan kesejahteraan bagi dirinya. Menurut saya, yang kedua adalah tahap paling sulit, karena yang perlu kita ubah bukanlah semata-mata pada alam materinya, tetapi kesadarannya. Jika kita bisa membuka saluran dan kita tidak mengajak rakyat untuk menganggap penting saluran itu, maka keadaan itu bisa kita ibaratkan sebuah gedung tanpa fondasi. Ia akan mudah runtuh walau hanya terhembus angin. Dalam hal ini, saluran-saluran itu pun akan dengan mudah lagi tertutup, jika negara makin memperkuat diri. Terlebih jika salah satu kelompok kepentingan menjadi dominan dalam memegang institusi negara tersebut.

Situasi ini, menurut saya, harus dipahami sedalam-dalamnya oleh para pejuang demokrasi, agar mereka tidak merasa kecewa jika usahanya belum berhasil, sehingga menyebabkan mereka berputus asa. Mereka sudah lelah dalam membuka jalan, tetapi tidak ada manusia yang memasuki jalan itu. Ataupun sebaliknya, mereka dengan bersusah payah mengajak rakyat membuka jalan, tetapi rakyat tidak menganggap bahwa jalan itu penting. Oleh sebab itu, saya berkeyakinan bahwa memperjuangkan demokratisasi di Indonesia saat ini adalah perjuangan yang mulia, dan cita-cita demokrasi menjadi cita-cita yang maha besar.

Pengalaman bahwa demokrasi yang tidak didukung oleh kedewasaan para pemimpinnya telah menghasilkan suatu kehancuran. Ini harus kita jadikan teladan. Demokrasi, bagi saya, bukan kebebasan semata-mata, tetapi kedewasaan. Sehingga, untuk mencapai itu, para pemimpinlah yang harus terlebih dahulu dewasa, baru kemudian menularkan kedewasaannya itu kepada rakyat. Jika ini terjadi, maka cita-cita demokrasi yang sesungguhnya akan kita capai. Dalam kedewasaan, kita bisa melihat persoalan secara proporsional dan rasional. Dalam kedewasaan, kita tidak akan menjadikan golongan atau kelompok kita bersuka ria, sementara orang lain menderita. Dalam kedewasaan, kita tidak akan menganggap orang lain sebagai hambatan atau neraka, tetapi justru sebagai makhluk yang berhati nurani dan berakal budi.

Dibanding Anda yang telah berusia lebih dari 70 tahun, pengalaman saya jelas tidak berarti apa-apa. Namun, mungkin sayalah yang akan mengalami masa depan bangsa ini beberapa puluh tahun yang akan datang, sehingga saya tidak ingin mengalami kejatuhan demi kejatuhan pada bangsa ini. Hal ini bukan berarti Anda akan tertinggal oleh sejarah masa depan bangsa ini, karena sejarah bukanlah sesuatu yang diskrit atau terputus-putus. Sejarah bagaikan benang yang terus-menerus bersambung. Tidak akan ada benang sepanjang 100 meter jika tidak dimulai dari benang yang 5 atau 10 meter. Begitu juga dengan Anda. Anda tidak akan pernah tertinggal oleh sejarah. Apalagi, jika cita-cita Anda untuk mendemokratisasikan bangsa ini belum berhasil, maka semangat dan ide-ide Anda adalah salah satu unsur yang turut merajut masa depan demokrasi bangsa ini. Anda tidak akan pernah mati sebagai seorang Soebadio, sebaliknya Anda akan terus hidup dalam cita-cita dan pengukiran sejarah bangsa ini.

Kurang lebih setahun lagi mungkin saya akan bebas. Namun, saya masih merasa belum banyak memahami berbagai ilmu yang diperlukan untuk membangun bangsa ini, karena saya kesulitan dalam mencari buku-buku atau referensi. Saya belum memiliki jaring-jaring yang cukup ketat dan akurat untuk menangkap realitas sosial. Karenanya, selama setahun ini, saya akan mempergunakan waktu itu untuk lebih mengintensifkan belajar.

Jika Anda tidak berkeberatan, saya ingin meminjam buku-buku Anda mengenai filsafat, sosiologi, dan ekonomi makro terutama sekali yang berhubungan dengan sistem ekonomi welfare-state. Jika saya memiliki uang, mungkin saya memilih beberapa buku Anda tersebut, atau bahkan semuanya, untuk difotokopi. Namun, jika Anda sudi memberikan beberapa buku, tentu saya akan sangat bahagia sekali. Perlu juga Anda ketahui bahwa saya baru mampu berbahasa Inggris.

Jika Anda berkenan, buku-buku itu bisa dititipkan kepada orang yang membawa surat ini, dan mungkin secepatnya buku-buku itu akan saya kembalikan. Mudah-mudahan dengan buku-buku itu saya akan makin dewasa, sehingga saya bisa turut membangun demokratisasi di negeri ini. Atau, setidaknya, saya akan siap hidup dalam alam demokrasi. I believe that sciences and knowledges will certainly lead us to the future of civilizations where the brotherhood of man will be more and more universal.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Sahabatmu,
 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!