Moh Jumhur Hidayat arrow Surat-surat dari Penjara arrow Belajar Berkata "Tidak"
Saturday, 31 July 2010
 
 
Belajar Berkata "Tidak" PDF Print E-mail
Monday, 05 August 1991

(Mengenang Dua Tahun Peristiwa 5 Agustus)

Penjara Sukamiskin, Bandung, 5 Agustus 1991

Assalamu’alaikum wr. wb. Hari ini tepat dua tahun peristiwa 5 Agustus. Bagi Anda mungkin tanggal tersebut tidak berarti apa-apa, tetapi bagi saya itu merupakan tanggal kemenangan. Karena dari tanggal itu saya bisa memahami secara empiris kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman itulah yang saya sebut sebagai kemenangan. Anda boleh saja mengatakan bahwa saya mengada-ada, tetapi Anda tidak mungkin mengatakan bahwa saya tidak sedang hidup dalam ketertindasan.

Subyektivitas yang muncul secara sadar, karena ketertindasan bukanlah sikap emosional, tetapi justru sangat diperlukan dalam usaha penyempurnaan manusia dan masyarakat. Sikap obyektif bagaikan komputer tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa, kecuali kepuasan pribadi.

Kita pernah mendengar bahwa lebih dari 30 juta (keterangan dari pemerintah) rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Mendengar berita ini, jika kita bersikap seperti komputer, kita cukup puas hanya dengan mendengar atau mengetahui. Kita puas, sehingga kita bisa menjawab jika ditanya guru atau dosen, atau bahkan kita bisa bercerita kepada setiap orang. Dengan mengetahui data tersebut, kita lebih suka dijuluki intelektual pembaharuan daripada mengajak mereka agar memberantas kemiskinan. Itu terjadi, karena kita tidak mentransformasikan kesadaran obyektif kita ke dalam kesadaran subyektif. Bagi saya, sebesar apa pun pemahaman kita tentang realitas sosial yang menindas, bila kita tidak pernah tergerak untuk mengubahnya, itu merupakan kesia-siaan. Ilmu, dalam hal ini, bukan lagi untuk kemanusiaan, tetapi untuk ilmu itu sendiri. Jika ini terus dipertahankan, maka malapetaka besar akan menimpa masa depan kemanusiaan.

Belum lama ini saya kedatangan seorang teman yang mengatakan pada saya bahwa sebelum ia membesuk dan bercerita banyak dengan saya, ia menganggap bahwa saya bodoh. Dianggap bodoh, karena saya sampai dikeluarkan dari sekolah kemudian masuk penjara hanya untuk mempertahankan idealisme. Saya mengatakan kepadanya bahwa apa yang saya perbuat dan saya korbankan tidak berarti apa-apa bagi perubahan. Kemudian saya katakan lagi, jika semua yang saya lakukan tidak dilandasi oleh kesadaran, maka boleh jadi benar apa yang dituduhkannya itu.

Cita-cita besar dan mulia haruslah dirintis juga oleh semangat dan patriotisme yang besar. Karena itu, saya katakan bahwa ketertindasan saya saat ini tidak berarti apa-apa bagi perubahan. Dan saya tidak pernah ingin terburu-buru melihat hasil, karena saya tidak ingin kecewa. Bekerja, bagi saya, di samping merupakan proses adalah juga hasil, karena hanya dengan bekerja saya bisa bereksistensi. Sedangkan mengenai hasil, mungkin saya tidak akan pernah melihatnya, karena hasil dalam suatu proses bermasyarakat juga merupakan proses. Namun, itu proses lebih sempurna.

Keruntuhan besar masyarakat Indonesia beberapa tahun belakangan ini, menurut saya, disebabkan oleh hilangnya semangat patriotisme pemuda. Padahal, begitu banyak sanjungan yang diberikan kepada mereka. Namun, sanjungan itu bukan membuat mereka berpikir dan berusaha membuktikannya, tetapi justru membuat terlena. Sanjungan itu dianggap seperti sanjungan terhadap seorang wanita yang ditakdirkan cantik jelita. Padahal, sanjungan kepada pemuda adalah bukan takdir melainkan proses historis. Berarti, sanjungan itu tidak akan pernah ada jika pemuda itu sendiri tidak pernah membuktikannya serta tidak didukung oleh dinamika masyarakatnya. Sedangkan wanita yang ditakdirkan cantik, tidak perlu dibuktikan pun, ia akan tetap cantik jelita. Saya hanya berharap agar sanjungan itu dibalik saja menjadi cacian, atau kalaupun perlu ada sanjungan, maka sanjungan itu jangan diberikan kepada setiap orang. Mudah-mudahan dengan cacian, mereka akan tersinggung dan berupaya membuktikan bahwa cacian itu salah alamat.

Saya tidak menumpahkan semua kesalahan ini kepada pemuda. Karena, ketika kesadaran mereka mulai tumbuh dan berkembang, mereka sudah dipengaruhi oleh keadaan masyarakat yang memang juga masyarakat bisu. Mereka terpaksa mengikuti masyarakat yang bisu itu. Namun, bukan berarti kesadaran itu harus tumbuh dari masyarakat. Jika kita mengimani doktrin ini, berarti kita menenggelamkan individualitas ke dalam masyarakat. Dengan kata lain, menganggap bahwa manusia adalah obyek sedangkan masyarakat adalah subyeknya, yaitu pembentukan kesadarannya hanya semata-mata dipaksa oleh masyarakat. Doktrin ini, menurut saya, tidak akan pernah melahirkan manusia-manusia revolusioner, atau tidak bedanya dengan mempercayai takdir Tuhan secara buta.

Kita sering sadar bahwa di depan mata kita ada penindasan. Namun, kita tidak berani mengubahnya lantaran kita selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial, sehingga kita menjadi ragu-ragu apakah benar di depan mata kita itu terjadi suatu penindasan. Dalam hal kekuasaan, alangkah tepatnya apa yang dikatakan oleh George Orwell dalam bukunya Mereka Yang Tertindas. Pokok persoalannya adalah bila ketakutan, kebencian, kecemburuan dan pemujaan kepada kekuasaan terlibat, kepekaan terhadap realitas menjadi kacau. Ia benar bahwa kita tidak bisa memungkiri, pengaruh kekuasaan membuat kita tidak mampu berbuat obyektif. Dan untuk masyarakat kita, pengaruh terbanyak adalah ketakutan dan pemujaan.

Mungkin perlu juga Anda ketahui, ada pengaruh lingkungan lain yaitu kita terbiasa melihat penindasan, sehingga kita tidak lagi menganggap penindasan sebagai suatu penindasan. Keterbiasaan ini sangat berbahaya, terutama jika tertanam pada generasi muda yang katanya sebagai ujung tombak pembangunan bangsa. Keterbiasaan ini akan membuat tombak itu menjadi tumpul dan makin tumpul, sehingga tidak mampu lagi berfungsi sebagai tombak. Karena itu, untuk mengasah agar tombak tajam kembali, yaitu dengan terus menerus menanamkan dalam hati untuk berkata “tidak” kepada penindasan, sekalipun penindasan itu untuk alasan semulia apa pun.

Menurut Sartre, seorang eksistensialis, negara Perancis lebih bebas ketika masih dijajah oleh Jerman, karena mereka masih bisa berkata “tidak”. Kita memang harus mencurigai setiap keadaan yang menggiring kita selalu berkata “ya”. Secara sepintas mungkin itu suatu keharmonisan, tetapi dalam substansinya tidak lain adalah bentuk pemenjaraan. Dan pemenjaraan itu jauh lebih berbahaya ketimbang terpenjara seperti yang sedang saya alami sekarang. Itu merupakan pemenjaraan kesadaran dan eksistensi diri, sehingga dalam hal ini manusia tidak lebih bagaikan robot-robot terprogram.

Peristiwa 5 Agustus, bagi saya, adalah salah satu sarana pembebasan, karena saya bisa berkata “tidak”. Dan ternyata akibat dari peristwa itu lebih meyakinkan saya untuk lebih sering mengatakan “tidak” kepada realitas sosial sekarang ini. Itulah manfaat nyata peristiwa 5 Agustus bagi diri saya. Anda memang tidak bisa merasakan manfaat dari peristiwa itu. Namun, jika Anda mau sedikit saja berpikir dan memahami realitas, Anda pun akan sering mengatakan “tidak” walau dengan cara paling lemah sekalipun, yaitu berteriak dalam hati. Mudah-mudahan suatu saat, jika Anda memiliki kesempatan, perkataan “tidak” itu akan Anda manifestasikan dalam tindakan nyata. Dengan begitu, Anda bisa dikatakan telah memulai perjuangan.

Saya pernah mendengar banyak pemuda yang mulai bertindak untuk mengubah kenyataan. Namun, dari pengamatan saya, perubahan-perubahan yang dilakukan mereka tidak berlandaskan diri pada suatu konsep yang tegas, sehingga sering dalam perjalannya terbentur oleh hal-hal tidak prinsip. Menerobos adalah usaha yang amat sulit, oleh karenanya kita perlu memakai perisai agar tidak tertimpa oleh reruntuhan tembok yang kita terobos itu. Kita harus menjadikan konsep sebagai perisai kita, dan membuang semua prasangka yang dapat menghalangi perjalanan kita. Karena prasangka yang tidak didasari oleh konsep merupakan tindakan kebodohan. Agama saya mengajarkan bahwa sebagian dari berprasangka (buruk) itu dosa.

Bahaya bagi pemuda sebagai pejuang pemula jika terperangkap oleh perjuangan yang memuja-muja kelompok. Ini berarti perjuangan mereka kembali ke masa primitif yang hanya bisa membenarkan apa yang dibenarkan oleh kelompoknya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak pernah dipakai sebagai alat untuk menumbuhkan persaudaraan yang makin universal, melainkan sebagai alat pembenaran kelompoknya. Bagi saya, perjuangan yang demikian bukanlah perjuangan, melainkan gangguan atau penghambat bagi perjuangan universal. Lebih baik orang seperti ini diam saja, karena dengan diam tidak akan mengganggu dan menghambat perjuangan orang lain yang jauh lebih mulia.

Mungkin Anda menuduh saya sebagai orang yang “sok tahu”, karena seolah-olah saya dapat memastikan bahwa perbuatan ini lebih baik daripada perbuatan itu. Terus terang, jika itu yang Anda maksud dengan “sok tahu”, saya tidak akan menolak tuduhan itu. Menurut saya, semua ilmu yang berhubungan dengan penyempurnaan manusia atau masyarakat akan memiliki watak totaliter sekecil apa pun watak itu. Dengan ilmu kita bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa sesuatu salah atau benar, dan mungkin orang akan menganggap ini sebagai gejala “sok tahu”.

Mempengaruhi orang lain agar lebih mengenal dirinya hanya mungkin dilakukan oleh orang yang tahu dan ini tidak salah asalkan tidak menjadi sombong atau tinggi hati, sehingga mengabaikan kritik. Terus terang, saya ingin sekali menjadi orang yang “tahu”, agar saya tidak salah melangkah dalam meraih cita-cita kemanusiaan. Yaitu, dengan sekuat tenaga mencari jalan agar manusia bisa menjadi subyek bagi diri dan masyarakatnya. Saya tidak pernah menutup kemungkinan membenturkan pikiran-pikiran saya, karena dengan membenturkan pikiran berarti saya telah menganggap orang lain sebagai subyek, dan itu juga menjadi cita-cita saya.

Memperjuangkan agar kita mendapatkan sarana jauh lebih mudah daripada memperjuangkan agar manusia mengenal dirinya. Mungkin Anda mampu dalam waktu tiga hari menciptakan atau merebut agar sarana berdemokrasi terwujud. Namun, dengan yakin saya berani mengatakan bahwa belum tentu dalam 20 tahun Anda mampu memperjuangkan agar manusia bisa bersikap demokratis. Di sini Anda bukan lagi berhadapan dengan benda, tetapi manusia. Dan untuk mempengaruhi agar manusia bersikap demokratis hanya mungkin dilakukan oleh orang yang mengetahui makna demokrasi dan juga sekaligus berjiwa demokratis. Bagi saya, ini bukanlah gejala “sok tahu” melainkan “lebih dahulu tahu” dan mudah-mudahan Anda akan memilih menjadi orang yang lebih dahulu tahu.

Saya tidak akan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang pasti benar. Saya hanya ingin memberi tahu Anda, bahwa ada sesuatu yang semestinya kita anggap persoalan. Untuk itu, saya mengajak Anda untuk berpikir dan kemudian bisa bekerja sama menyelesaikan persoalan penting itu. Dengan bekerja bersama tentunya kekuatan perubahan akan semakin besar, sehingga kita akan lebih mendekat lagi kepada cita-cita.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Sahabatmu,

Moh Jumhur Hidayat

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!