Moh Jumhur Hidayat arrow Surat-surat dari Penjara arrow Islam Faith dan Islam Regulation
Saturday, 31 July 2010
 
 
Islam Faith dan Islam Regulation PDF Print E-mail
Sunday, 29 December 1991

Penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1991

Dear Muhammad Edi

Assalamu’alaikum wr. wb. Boleh jadi merayakan hari ulang tahun adalah suatu kesia-siaan. Bagi saya, kalau perayaan tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk mencari kesenangan (make pleasure), memang merupakan kesia-siaan. Sebaliknya, jika perayaan tersebut dijadikan sebagai momentum untuk merefleksikan dan mengevaluasi secara kritis apa-apa yang pernah kita laukakan, baik yang datang dari diri sendiri maupun orang lain, maka perayaan hari ulang tahun menjadi sangat penting dan mungkin perlu dipentingkan.

Hari ini usia Anda genap 33 tahun dan mungkin dalam usia tersebut Anda sudah makin mengenal diri Anda. Itulah setidaknya harapan saya, karena sekarang banyak orang yang makin bertambah umur makin tidak mengenal dirinya. Ini adalah kenyataan di sekitar kita, sehingga wajar kalau kita menjadi prihatin dan kemudian bersiap diri untuk mencarikan jalan agar mereka makin mengenal diri. Dalam pandangan saya, apa-apa yang Anda lakukan selama ini mengarah kepada usaha mengajak orang lain untuk mengenali dirinya. Sebab itu agar Anda tetap berada pada jalan ini, maka setiap saat Anda pun harus lebih makin mengenal diri Anda. Mengenal diri itu, selain dilakukan dengan merenung, harus pula dilakukan dengan memahami lingkungan tempat Anda tinggal. Termasuk dalam lingkungan itu adalah orang-orang dekat Anda, sistem budaya, agama, sistem politik, ekonomi, dan sebagainya. Dengan memahami lingkungan tersebut, berarti Anda akan lebih memahami di mana posisi dan peran Anda.

Seperti yang tersirat dalam surat Anda kepada saya tempo hari, bahwa Anda mempunyai beberapa harapan terhadap diri saya, maka sebaliknya saya pun demikian. Saya rasa, saling berharap di antara kita adalah suatu kemajuan dari persahabatan kita selama ini, karena berarti kita telah saling mengingati dan mengabari dalam kebajikan. Mudah-mudahan kebiasaan ini akan terus berjalan sampai kita dipisahkan oleh kematian.

Pengamatan saya terhadap diri Anda selama ini, saya melihat Anda sebagai seorang yang memiliki semangat spirit yang tinggi dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Namun bagi saya, spirit saja tidaklah cukup dalam memperjuangkan nilai-nilai ini. Karena spirit yang tidak dilandasi oleh metode akan menyebabkan tindakan salah kaprah. Saya tidak tahu apakah Anda merasakan itu atau tidak. Namun, yang pasti, jika saya memiliki semangat, tetapi tidak memiliki metode, maka tindakan saya menjadi salah. Hal ini terbukti dari rekonstruksi tindakan yang selama ini saya lakukan sejak kecil hingga dewasa ini. Tindakan yang dahulu saya anggap sebagai suatu kebenaran, namun setelah saya dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan, tindakan tersebut ternyata salah dan saya kadang-kadang menyesal jika mengingatnya.

Dunia sudah banyak berubah, bahkan melampaui apa yang kita pikirkan. Kalau kita ibaratkan, selangkah kita memikirkan dunia, dunia telah berubah sepuluh langkah. Dan kita akan sulit untuk mengejarnya jika kita tidak menyadarinya dari sejak dini. Alat untuk menyesuaikan pikiran kita dengan perubahan dunia saat ini tidak lain adalah lebih mengintensifkan pemahaman kita terhadap dunia itu sendiri. Di sinilah seorang muslim seharusnya berperan jika memang Islam masih diharapkan dapat menggapai momentum dunia. Sebaliknya jika tidak, berarti kita hanya bisa berbangga hati dengan kejayaan masa lalu. Bagi saya, membanggakan masa lalu tidak berarti apa-apa, selain memenuhi kepuasan psikologis yang sifatnya semu.

Dalam Al-Qur’an, kita diperintahkan berkali-kali untuk mempelajari sejarah agar kita bisa lebih waspada dalam menghadapi masa depan kita. Sejauh pengetahuan saya, tidak pernah sekalipun Al-Qur’an memerintahkan kita untuk membanggakan masa lalu. Membanggakan masa lalu, menurut saya, merupakan salah satu motivasi untuk membangkitkan kembali (revitalisasi), dan alat untuk itu tiada lain adalah mempelajari sejarah dengan lebih seksama.

Terkadang saya prihatin dengan pemikiran beberapa pejuang Islam Indonesia sekarang yang berpikir serupa dengan zaman kegelapan. Menurut saya, berpikir seperti itu bukan membangun Islam, tetapi justru menghancurkannya. Memang, semua itu biasanya tidak pernah disadari. Karena tidak pernah dibiasakan berpikir alternatif dan sistematis, maka muncul sikap dogmatis yang nyata-nyata sikap ini dapat menghambat kemajuan Islam. Saya tidak menolak dogmatisme. Namun, saya juga memiliki akal untuk memilih mana dogma-dogma yang sesuai dengan ajaran Islam. Menghilangkan sikap dogmatis bukanlah dengan menghilangkan kepercayaan kita kepada perintah-perintah Allah, melainkan menjelaskannya dan menghubungkannya dengan realitas sosial tempat kita berada.

Ketika terjadi demonstrasi besar-besaran menolak peredaran SDSB, kita sering mendengar bahwa alasan demonstrasi tersebut, karena SDSB haram. Menurut saya, alangkah lebih indahnya jika selain alasan haram itu juga disodorkan alasan-alasan ilmiah. Dengan menambahkan alasan ilmiah, saya yakin demonstrasi tersebut selain dapat menghapuskan SDSB, juga dapat menjadikan syiar bagi perkembangan Islam. Karena seperti telah saya siratkan di atas, manusia sekarang cenderung menolak dogma-dogma, seperti misalnya halal atau haram tanpa disertai penjelasan.

Saya pernah mengatakan kepada seorang teman, yang intinya kita harus jujur bahwa Islam sebagai regulation (aturan) dapat diterima oleh setiap orang. Sebaliknya, Islam sebagai faith, memang akan sulit diterima oleh orang yang bukan Islam. Sebagai misal, semangat pembebasan perbudakan yang datang dari Islam sangat mungkin dipakai oleh semua orang. Sebaliknya, untuk mempercayai bahwa Tuhan itu adalah Allah, mungkin mereka akan sulit menerimanya. Menurut saya, berjuang dalam jalan Islam bukan saja mendakwahkan agar orang non-Islam menjadi Islam dalam pengertian faith (keyakinan), melainkan juga menunjukkan kepada mereka bahwa Islam dalam pengertian regulation (aturan) adalah suatu yang pantas diterapkan. Mungkin dengan cara ini justru mereka akan menjadi tertarik kepada ajaran-ajaran Islam.

Seperti yang Anda saksikan mengenai perubahan dunia saat ini, komunisme sudah mengubur dirinya sendiri. Namun, ini bukan berarti kemenangan bagi liberalisme Barat. Sebenarnya pada posisi ini Islam juga bisa mengambil manfaat yang besar terhadap perubahan dunia, karena sedikit banyak Islam bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak pernah menyentuh Islam sama sekali. Kalau situasi sudah memberikan momentum, maka tugas muslim selanjutnya adalah meraih momentum tersebut, dengan menunjukkan bahwa Islam selain sistem faith, juga sistem regulation yang bisa memberikan keadilan sosial di dunia.

Ungkapan seorang muslim yang mencaci komunisme, karena kegagalannya, menurut saya, tidak berarti apa-apa jika tidak disertai suatu alternatif pemecahan berupa nilai-nilai Islam. Karena itu, tugas utama muslim saat ini adalah menyodorkan gagasan alternatif ini sejelas mungkin, sehingga mereka bisa memahami, mengakui kebenarannya, kemudian melaksanakannya.

Anda pernah menyarankan saya agar menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam setiap pengambilan keputusan. Saran Anda tersebut sangat tepat dan benar. Namun, perlu juga Anda pahami bahwa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber tidak semudah kita melihat daftar tabel rumus-rumus statistik. Saya pernah menulis artikel tentang hal ini. Dalam artikel tersebut saya katakan bahwa Al-Qur’an bukan semata-mata kumpulan rumus melainkan samudra pengkajian. Jadi Al-Qur’an bukan untuk dilihat, tetapi dikaji.

Menurut Roger Garaudy, seorang intelektual komunis yang kemudian memeluk Islam, salah satu penyebab kemunduran Islam selama ini adalah karena orang membaca Al-Qur’an dengan mata orang mati. Sebagai misal, dapatkah Anda membayangkan jika orang membaca ayat Al-Quran kemudian menafsirkan bahwa pembantu sebagai budak, sehingga boleh digauli sebagaimana kita menggauli isteri? Inilah salah satu contoh ekstrem orang membaca Al-Qur’an dengan mata orang mati. Kalaupun menurutnya hal tersebut adalah usaha untuk menegakkan Al-Qur’an, pada kenyataannya ini tidak disadarinya, justru menghancurkan Islam. Singkat kata, adalah sangat ideal jika dalam mengkaji Al-Qur’an kita juga dibekali oleh pengetahuan cukup, sehingga penyelewengan yang tidak disadari tersebut tidak akan pernah terjadi.

Kalau sekarang Anda bertanya kepada saya, apakah harapan saya terhadap diri Anda, saya akan menjawab insya Allah Anda akan menjadi pejuang Islam yang kaffah. Pejuang yang tidak saja terpaku pada spirit, tetapi juga mendalami bagaimana merealisasaikan spirit tersebut dalam suatu argumentasi yang jelas dan ketat, sehingga dapat diterima oleh semua pihak. Dan menurut saya, Anda potensial untuk melakukan semua ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Sahabatmu,

Moh Jumhur Hidayat

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!