Moh Jumhur Hidayat arrow Dekaplah Aku
Wednesday, 07 January 2009
 
 
Dekaplah Aku PDF Print E-mail
Wednesday, 20 December 1989

(Untuk Bapak dan Ibu Tercinta)

Aku sekarang sendiri, dan aku melihat seorang anak sedang bermain dengan Bapak dan Ibunya. Anak itu tertawa dengan riangnya dan sang Bapak serta sang Ibu pun turut tertawa juga dengan rasa mengasihi dan menyayangi yang tiada taranya. Ya … mereka begitu berbahagia, sampai-sampai aku melihat sorot mata anak itu yang mengisyaratkan bahwa di dunia ini hanya ada kebahagiaan, cinta dan kasih sayang.

Tetapi, kenapa sekarang aku begitu terkejut dan begitu merasa sepi? Dadaku sesak, mataku berkunang-kunang, tanganku bergetar. Oh … ternyata seorang anak yang kulihat itu adalah aku sendiri. Apakah aku bermimpi? Apakah aku bernostalgia? Tidak! Aku hanya melihat dan merasakan perbedaan yang amat besar dalam sejarah kehidupanku.

Dahulu! Ketika kebahagiaan dan tawa kuraih bersama Bapak dan Ibuku, semua makhluk pun seolah-olah turut mendukung dan tertawa. Ya … bunga-bunga tersenyum, daun-daun palem dan rumput-rumput juga turut menari-nari ikut berbahagia dan tertawa bersamaku. Tetapi … kenapa makhluk di sekelilingku kini begitu menyeramkan? Tembok-tembok pejal, terali-terali besi yang kokoh, sorotan-sorotan mata penuh curiga dan bau-bau busuk comberan seolah sengaja diciptakan untuk menakut-nakuti diriku.

Ada apa sebenarnya dengan diriku? Apakah aku sekarang bukan seorang anak lagi? Atau sekarang aku sudah berubah menjadi serigala yang pasti akan menerkam hingga perlu disekap dan diasingkan? Begitu cepatkah perubahan dari kasih-sayang dan cinta menuju kekejaman dalam sejarah kemanusiaan?

Tidak Pak, tidak Bu! Semua ini tidak berjalan secara alamiah! Semua perubahan yang drastis dari kasih sayang dan cinta menuju kekejaman itu sengaja diciptakan oleh manusia-manusia yang tidak mau terganggu oleh kenakalanku sekarang ini. Biarlah Pak, biarlah Bu! Aku akan menghadapi semua perubahan drastis ini dengan angan kasih sayang darimu. Aku yakin, bahwa aku mampu dan sanggup menghadapi semua ini.

Tetapi mungkinkah Bapak dan Ibu juga akan berlaku sama seperti manusia-manusia yang gila akan kekuasaan itu? Kemudian meninggalkanku sendiri? Janganlah Pak, janganlah Bu. Nanti kepada siapa lagi aku harus menimba kasih sayang dan cinta jika manusia-manusia gila kekuasaan itu sudah menghasut semua manusia di negeri ini untuk membenci dan memusuhiku? Bapak dan Ibu … dengarlah! Semua cara bisa dilakukan oleh manusia-manusia gila kekuasaan itu untuk memisahkan kita.

Bapak dan Ibu, berjanjilah kepada anakmu, bahwa anakmu tidak akan ditinggalkan sendiri, berjanjilah bahwa anakmu akan terus merangkai kasih sayang dan cinta bersamamu sampai kehidupan kita sirna. Oleh Sebab itu ijinkanlah anakmu meminta: “Bapak dan Ibu dekaplah aku”.

Denci
LP Kebon Waru, Bandung, 20 Desember 1989

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!