| Surat untuk Ibu |
|
|
|
| Tuesday, 10 September 1991 | |
|
Ibu, dengarkan, aku ada sedikit cerita untukmu. Tadi malam aku menangis, karena mendengar suaramu ketika aku berada dalam buaian. Suara itu tiba-tiba saja datang menembus dinding-dinding yang tegar dan kokoh kemudian membawa aku pada kebahagian dan senyuman, namun sekaligus pada kegelisahan dan kepedihan. Aku memang terlena beberapa saat Bu, ketika aku seolah-olah berada pada suatu tempat yang jauh tetapi penuh dengan keharuman bunga mawar, yang keluar dari sela-sela jemarimu. Sekarang ini aku hanya bisa mencium bau busuk yang keluar dari jemari-jemari kotor, termasuk jemariku sendiri.
Aku tidak tahu, mengapa udara di sekelilingku semakin sumpek, padahal langit biru dan pepohonan rindang berada dekat denganku. Udara sekarang ini hanya berarti oksigen, padahal bukan hanya itu yang kuharapkan. Aku butuh udara kasih sayang seperti yang datang darimu Bu. Tetapi tidak ada manusia yang bisa memberikannya. Ketika bola matamu menuju padaku, aku merasa bahwa aku adalah manusia. Tetapi sekarang, setiap sorot bola mata yang menuju padaku di manapun aku berada, selalu disertai dengan pancaran kecurigaan dan ketidakpuasan, sehingga aku selalu merasa bagaikan telanjang di persimpangan jalan. Bu, setiap malam aku salalu merenung, siapakah yang mengajarkanmu, hingga tidak henti-hentinya mencintaiku? Mungkinkah pengajaran itu bisa juga diberikan kepada manusia-manusia lain? Apakah itu proses sejarah atau memang turun begitu saja dari langit? Aku masih percaya Bu, bahwa akal budi bisa mengajarkan segalanya, termasuk mengajarkan untuk mencintai semua manusia. Ketika aku kecil, setiap saat aku bisa menemukan oase yang dapat menghilangkan dahaga dan memberikan kesejukan. Memang, sekarangpun aku bisa mendapatkan oase-oase yang menjanjikan sejuta keindahan, tetapi Bu, oase yang kutemukan itu selalu beracun. Kalaupun aku ingin tetap mereguk air itu, aku harus mengeluarkan banyak tenaga untuk memisahkan racun-racun itu dari airnya, dan itu teramat melelahkan Bu. Bahkan kadang-kadang aku langsung saja meminum air itu bersama racun-racunnya. Itulah sebabnya Bu, darah yang mengalir dalam tubuhku sudah tercemari racun. Tetapi Ibu jangan kahwatir, karena aku menyadari bahwa aku sudah terkena racun. Ibu harus bangga dengan itu, karena banyak sekali manusia yang justru tidak menyadari itu. Bu, kesadaran bahwa darahku penuh racun adalah alat yang selalu mengingatkanku, agar aku tetap waspada terhadap siapa saja. Dan kalau suatu saat suasananya sudah memungkinkan, aku akan segera berganti darah Bu. Dan berarti aku akan seperti ketika aku kecil. Bu, kadang-kadang aku tidak percaya dengan nurani, karena aku seringkali tertipu olehnya, termasuk nuraniku sendiri. Aku sedang berusaha agar mampu menghilangkan kecurigaan terhadap segala niat baik walaupun itu sangat sulit kulakukan. Dalam keadaan udara yang sumpek ini, setiap niat baik selalu saja diselubungi oleh niat jahat, atau setidaknya Bu, niat baik itu justru akan berakibat malapetaka bagi umat manusia. Bu, kemarin sore, ketika aku sedang duduk di depan jendela, aku melihat di suatu tempat yang jauh ada burung yang terbang berpasang-pasangan. Betapa mesranya mereka Bu. Dan kemesraan itu tidak pernah terhalangi oleh kecurigaan, kepalsuan, kehati-hatian seperti kemesraan pada manusia. Aku jadi ingin seperti burung-burung itu. Oh Ibu, maafkan aku, karena aku sudah bercerita terlalu jauh. Aku tidak sadar bahwa sekarang sudah jam 12 malam, yang berarti aku harus siap-siap untuk bebas. Selamat malam Bu ... Sukamiskin, 10 September 1991 Moh Jumhur Hidayat |
| < Prev | Next > |
|---|


Kepada Orang-orang Bebas 



