| Untuk Aki Aleh |
|
|
|
| Friday, 30 August 1991 | |
|
Aku mendengar lonceng tanda apel. Pandangan dan penciumanku tergoda. Kulihat orang tua bungkuk mamasuki pintu, bersamaan dengan semilir angin yang menghembuskan bau pesing.
Teng! teng! teng! lonceng kedua di dalam blok berbunyi. Tetapi orang tua itu belum juga sampai di depan kamarnya. Dari jauh kudengar gemeretak suara sepatu petugas. Ah! untung jarak petugas dengan orang tua itu masih jauh, sehingga aku tidak terlalu khawatir. Karena menurutku orang tua itu akan sampai lebih dahulu, dan siap berdiri tegap persis di muka pintu kamarnya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, tiga puluh, tiga puluh satu, tiga puluh dua, Sudah pak! semuanya ada, kumplit! enam puluh tujuh. Aku bersyukur, karena ternyata harapanku terkabul. Orang tua itu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dan aku masih saja memandang kamar yang pintunya terbuka itu. Benar dugaanku, hanya beberapa detik saja dalam kamar, kemudian ia keluar lagi, tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya. Aki Aleh, begitulah masyarakat di sini biasa memanggilnya. Orang tua itu berumur lebih dari delapan puluh tahun. Dan mendapat hukuman bertahun-tahun, karena terlibat pembunuhan tukang teluh di kampungnya. Badannya pendek, kriput dan sudah bungkuk. Matanya sudah sulit melirik apalagi melotot. Dan mungkin harus memakai kaca mata minus 5 dan plus 5. Tetapi Aki Aleh tidak pernah perduli dengan itu. Orang ini hidup dalam tiga zaman, dan sekaligus hidup dalam tiga periode penderitaan. Rasio dan logika tidak menganjurkan Aki Aleh untuk tetap hidup. Tetapi bunuh diri tidak sekalipun pernah terlintas dalam benaknya. Orang tua itu sadar bahwa hari tuanya kelam. Tidak seperti hari tua para konglomerat, yang memiliki 46 pabrik dan 500.000 hektar kebun cengkeh. Ai ai ai, kulihat orang tua itu memasuki kamar, dan keluar lagi sambil membawa piring jatah Oh! Sudah jam empat, waktunya mengambil cadong. Hati-hati ki! jangan terlalu berdesak-desakan! Dan juga lihatlah ke bawah karena lantainya licin! Aki Aleh tetap saja melangkah dengan kepala bungkuk. Yang hanya mampu melihat beberapa jengkal saja di hadapannya. “Aku harus makan dan masih ada surga!” Itulah mungkin yang membangkitkan semangat hidupnya. Sukamiskin 30/8/91 Moh Jumhur Hidayat NB: Aki Aleh, terpidana kasus pembunuhan tukang teluh di Garut. |
| < Prev | Next > |
|---|


Untuk Aki Aleh 



