| Manifesto Kekuatan Ketiga |
|
|
|
| Wednesday, 30 October 2002 | |
|
Buku ini bisa hadir di hadapan pembaca yang budiman, dimulai dari kegelisahan penulis dalam mengamati kekuatan politik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam saat ini, yang semakin menjauh dari cita-cita awalnya. Pada hemat penulis, kelompok nasionalis yang berkuasa saat ini, telah keluar dari pemikiran-pemikiran Bung Karno, sehingga melupakan kaum marhaen atau wong cilik yang selalu hidup dirundung kesulitan. Sementara itu, kelompok Islamnya telah keluar dari cara-cara berjuang yang dilakukan oleh HOS. Tjokroaminoto, yang telah dengan setia menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan orang-orang tertindas (mustadh’afin).
Manifesto Kekuatan Ketiga Buku ini bisa hadir di hadapan pembaca yang budiman, dimulai dari kegelisahan penulis dalam mengamati kekuatan politik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam saat ini, yang semakin menjauh dari cita-cita awalnya. Pada hemat penulis, kelompok nasionalis yang berkuasa saat ini, telah keluar dari pemikiran-pemikiran Bung Karno, sehingga melupakan kaum marhaen atau wong cilik yang selalu hidup dirundung kesulitan. Sementara itu, kelompok Islamnya telah keluar dari cara-cara berjuang yang dilakukan oleh HOS. Tjokroaminoto, yang telah dengan setia menerapkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membebaskan orang-orang tertindas (mustadh’afin). Kegelisahan penulis itu kemudian diperkuat lagi dengan menyaksikan berbagai bentuk ketidakpuasan rakyat dalam menyikapi kebijakan pemerintah, seperti misalnya perlakuan yang menguntungkan para konglomerat bermasalah, kenaikan harga BBM, listrik dan kebutuhan pokok rakyat lainnya, penegakan hukum yang carut-marut, jaminan pembelian gabah petani yang tersendat, kemudahan melakukan impor gula yang berakibat merugikan petani tebu, penggusuran-penggusuran pedagang kaki lima, pengangguran yang terus meningkat, penyelesaian konflik etnis dan agama yang tidak kunjung usai, serta merebaknya pemakaian narkoba oleh pemuda-pemudi dan banyak lagi yang lainnya. Dari kegelisahan itulah kemudian penulis merenungkan kembali perjalanan sejarah rakyat Indonesia, yang akhirnya sampailah pada kesimpulan bahwa sejarah rakyat Indonesia adalah sejarah ketertindasan. Masa ketertindasan itu, tidak saja ketika pada masa feodalisme kerajaan dan kolonialisme Belanda, tetapi juga pada masa awal kemerdekaan, masa Orde Baru dan bahkan pada era reformasi saat ini. Karena itulah, penulis berkeyakinan bahwa ketidakpuasan rakyat ini akan mendorong terbentuknya suatu kekuatan baru yang penulis sebut kekuatan ketiga, yaitu suatu kekuatan yang berasaskan nasionalisme kerakyatan. Sedangkan kelompok nasionalis dan kelompok Islam, penulis namakan masing-masing sebagai kekuatan kesatu dan kekuatan kedua. Banyak memang kaum cendikia, demikian juga para politisi dan kalangan aktivis gerakan yang telah mengeritisi (negative campaign) keadaan sekarang. Namun, penulis melihat bahwa seringkali kritik tersebut berhenti pada kritik, atau paling jauh hanya memberikan pemecahan yang sifatnya terbatas, temporal dan tidak menyeluruh. Oleh karena itu, dalam buku ini penulis lebih menekankan bentuk-bentuk pemecahan yang harus dilakukan oleh pemegang kebijakan, agar bangsa dan negara dapat terselamatkan, baik dari malapetaka saat ini maupun malapetaka yang lebih dahsyat pada masa depan. Jakarta, Oktober 2002 |
| < Prev | Next > |
|---|







