| 1. Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan |
|
|
|
| Wednesday, 30 October 2002 | |
|
Secara khusus penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua penulis, karena rasa cintanya kepada penulis tiada habis-habisnya, baik itu pada waktu suka cita, maupun pada waktu penulis sangat menderita. Dengan penuh harapan akan lahirnya suatu kekuatan pemuda, maka penulis mempersembahkan buku ini untuk mereka, walau tentunya penulis juga berharap bahwa buku ini dapat dijadikan tambahan referensi bagi orang-orang tua, khususnya para pemegang kebijakan, baik yang berada di pemerintahan mapun parlemen. Selanjutnya, penulis juga menghaturkan buku ini kepada tokoh-tokoh gerakan, baik yang berada di partai politik, organisasi kemasyarakatan dan organisasi buruh, yang sedang berjuang dengan gigih untuk meningkatkan martabat rakyat dan perbaikan moral bangsa. Rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada taman-teman dan handai tolan, yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan buku ini di tengah-tengah kesibukan berorganisasi. Penulis berkeyakinan, bahwa bangsa Indonesia merdeka bukanlah untuk menjadi bangsa pinggiran, melainkan menjadi bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bersama bangsa-bangsa maju lainnya. Semoga Allah SWT mencatat kehadiran buku ini sebagai amal penulis yang kelak akan dibawa untuk menghadap-Nya. AminTidaklah ada ungkapan yang lebih berharga dalam rangka menyusun sebuah masyarakat baru selain daripada ungkapan belajar dari sejarah atau belajar dari masa lalu. Ungkapan ini sangat penting agar kita tahu posisi dan peran kita dalam gejolaknya sejarah perkembangan rakyat Indonesia. Dengan demikian, kita tidak akan tenggelam dalam gegap gempitanya masa sekarang yang pada akhirnya kita lupa akan tugas sejarah untuk membangun masyarakat baru Indonesia yang sejahtera, berkeadilan, berdaulat dan bermartabat. Gelora reformasi yang terjadi sekarang, telah melupakan hakikat ketertindasan karena seolah-olah setelah kita mendapatkan kebebasan politik atau demokrasi politik, maka ketertindasan struktural berupa kesengsaraan dan kebodohan pun tidak terjadi lagi. Dengan kebebasan politik itu, seolah-olah rakyat pastilah akan mencapai kebahagiaan. Setelah diselenggarakan pemilu bebas, seolah-olah rakyat langsung akan bisa makan, bisa bekerja, menyekolahkan anak, mendapat keadilan hukum dan sebagainya. Itulah gegap gempitanya reformasi yang pada akhirnya akan menenggelamkan kesadaran rakyat untuk memperbaiki kualitas kehidupannya. Bahkan tidak sedikit kaum terpelajar yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia telah keluar dari ketertindasan sejak runtuhnya benteng kekuasaan Orde Baru. |
| Next > |
|---|






