Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga arrow 1.2. Pengkhianatan terhadap Reformasi
Saturday, 31 July 2010
 
 
1.2. Pengkhianatan terhadap Reformasi PDF Print E-mail
Wednesday, 30 October 2002

Dengan menyadari sejarah rakyat seperti dijelaskan di atas tersebut, maka janganlah sekali-sekali kita meyakini bahwa runtuhnya rezim Orde Baru sebagai kepastian berakhirnya sistem elitisme, feodal dan kolonial untuk selama-lamanya. Kita harus tetap waspada, bahwa upaya sistematis peminggiran rakyat terutama yang dimulai dari peminggiran ekonomi dan berujung pada peminggiran politis adalah tetap ada, karena inilah sejatinya ideologi yang berkembang di negeri kita. Kita harus menganggap bahwa era reformasi saat ini adalah seperti bayi merah yang sangat rentan, ringkih dan rawan terhadap gangguan kekuatan-kekuatan lama.

Reformasi dalam pengertian yang sebenarnya yaitu berjalannya demokrasi politik dan demokrasi ekonomi secara bersamaan, saat ini tidak berjalan. Apabila demokrasi hanya diartikan sebagai kebebasan politik sementara pemberdayaan kehidupan ekonomi rakyat diabaikan, maka penderitaan rakyat pada masa depan akan merupakan suatu kepastian. Secara bertahap saat ini pun rakyat sudah mulai menunjukkan ketidakpuasannya, karena ternyata kebebasan politik tidak diikuti dengan kesejahteraan ekonomi.

Hampir dapat dipastikan bahwa semua orang di Indonesia saat ini sedang menikmati demokrasi politik. Namun sebaliknya, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar pengambil keputusan di Republik ini bersama dengan kaum elit ekonomi yang saat ini disebut konglomerat atau para pengusaha besar terutama yang diperoleh dengan cara KKN, akan keberatan apabila demokrasi ekonomi dilaksanakan. Terlebih lagi apabila demokrasi ekonomi tersebut harus memotong berbagai keuntungan yang tidak wajar yang telah mereka nikmati bertahun-tahun.

Karena itu tidaklah heran apabila dengan segala kemampuan dana dan pengaruhnya, diciptakanlah suatu kesan seolah-olah demokrasi adalah hanya kebebasan politik atau demokrasi politik, sementara kesejahteraan ekonomi sepenuhnya bergantung pada masing-masing individu dan semata-mata bergantung nasib. Tidaklah heran pula apabila mereka yang pada era Orde Baru sangat menikmati fasilitas ekonomi sehingga bisa disebut sebagai milyarder atau bahkan triliuner, akan bersekongkol dengan berbagai kekuatan politik dominan yang ada untuk memenangkan pemilu. Hal ini bisa terjadi dengan memanfaatkan keadaan rakyat kita yang masih feodal dan percaya takhyul atau mistik dengan tingkat pendidikan yang rendah, serta kehidupan ekonominya yang sangat miskin!

Keadaan masyarakat seperti ini, akan menjadi objek mobilisasi dan manipulasi bagi kaum yang punya uang yang bersekutu dengan petualang-petualang politik baru dengan mengatasnamakan demokrasi (money politic). Akibatnya sangatlah jelas, yaitu dengan telah dilaksanakannya pemilu bebas tahun 1999 lalu, ternyata penderitaan rakyat secara umum bukannya tambah berkurang tetapi tambah meningkat. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah oleh siapapun!

Marilah sekarang kita melihat keadaan bangsa kita secara utuh. Nampaklah sudah, bahwa perkembangan masyarakat kita kian hari kian mengkhawatirkan. Cita-cita pemulihan ekonomi, pemberantasan KKN, stabilitas politik dan keamanan serta persatuan nasional terasa semakin menjauh dan semakin susah digapai. Dalam keadaan inilah kita kembali mempertanyakan makna sesungguhnya dari reformasi yang dengan segala pengorbanan telah kita perjuangkan.

Mengapa dengan reformasi kehidupan kita justru semakin sulit? Mengapa reformasi yang telah berjalan empat tahun semakin menambah tenaga kerja yang di PHK sehingga menambah barisan pengangguran hingga berjumlah 40 juta orang termasuk lebih dari 2 juta kaum sarjana? Ada apakah dengan reformasi sehingga KKN berkembang dengan lebih dahsyat dan terjadi pada setiap lapisan birokrasi dan politisi? Mengapa dengan reformasi, kaum tani semakin sulit mendapatkan harga jual gabah yang layak sementara harga pupuk semakin mahal dan langka sehingga kaum tani semakin miskin? Di manakah hak upah yang layak bagi kaum buruh, sehingga mereka semakin sulit menjangkau harga-harga bahan pokok? Ada apa gerangan dengan reformasi sehingga gejolak daerah, konflik antar etnis, antar agama dan kebringasan sosial semakin menggejala? Ke manakah sesungguhnya reformasi diarahkan sehingga martabat bangsa kita semakin merosot dalam kancah pergaulan internasional?

Apabila kemelaratan dan ketidakadilan seperti di atas adalah bagian dari reformasi, maka dengan jelas kita menolak reformasi tersebut! Karena reformasi tersebut pastilah reformasi gadungan. Kenyataan-kenyataan itu adalah bukti adanya pengkhianatan terhadap reformasi yang sesungguhnya. Kita membutuhkan reformasi sejati, yaitu reformasi yang bisa mengangkat harkat dan martabat kita sebagai bangsa, mengangkat kesejahteraan dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat tanpa pandang bulu. Itulah reformasi sejati yang harus terus kita perjuangkan!

Kita sangat menyesalkan, bahwa orientasi kebijakan para penguasa dan wakil rakyat saat ini semakin menjauh dari harapan rakyat. Golongan mustadh’afin terpinggirkan, wong cilik semakin tercekik dan rakyat marhaen berubah menjadi kaum peminta-minta. Perlulah ditegaskan di sini bahwa apabila keadaan ini tidak juga berubah, maka rakyat dengan pasti akan frustrasi sehingga akan menimbulkan keresahan serta anarkhi di mana-mana! Akan munculnya keresahan dan anarkhi ini adalah sama pastinya dengan matahari yang akan terbit esok hari dari ufuk Timur. Bahkan sekarang pun, kita sudah bisa menyaksikan keresahan dan anarkhi tersebut di mana-mana.

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!