| 1.3. Penjajahan Kembali (Rekolonisasi) |
|
|
|
| Wednesday, 30 October 2002 | |
|
Apabila kita melihat berjalannya sistem kolonialisme di Indonesia sebelum kemerdekaan, maka setidaknya kita akan menemui tiga hal utama bekerjanya sistem kolonialisme tersebut, yaitu pertama, negeri kita menjadi sumber bahan baku, kedua, bangsa kita menjadi penyedia buruh yang sangat murah, ketiga, bangsa kita menjadi pasar bagi produk-produk asing. Ketiga hal tersebut akhirnya menjadikan tanah air kita sebagai tempat berkembangnya surplus modal asing yang pada gilirannya dibawa kembali ke negeri asal penjajah! Saat ini kita menyaksikan semakin banyaknya industri pertambangan yang terjajar dari sabang hingga merauke yang dikuasai asing sementara buruh murahnya adalah orang Indonesia. Barisan pabrik-pabrik yang berada di kota-kota telah banyak yang dikuasai asing sementara buruh murahnya adalah orang Indonesia. Perkebunan-perkebunan yang subur juga secara bertahap telah dimiliki asing, sementara orang Indonesia hanya menjadi buruh upahan yang murah. Barisan hotel-hotel berbintang yang indah dipandang juga dimiliki oleh asing, sementara orang Indonesia tidaklah lebih sebagai pegawai rendahan atau penyedia jasa pelacuran (the taste of Indonesia). Demikian juga dengan bisnis eceran dalam sekala besar seperti Carrefour, Makro, Hero dan sebagainya, semuanya telah dikuasai oleh asing. Bahkan yang lebih menyakitkan hati, usaha kerajinan ukir yang ada di berbagai daerah pun, sekarang sudah dikuasai oleh modal asing, sementara seniman-seniman jenius yaitu para pengukirnya telah berubah menjadi buruh upahan saja! Dampak dari penguasaan modal asing ini adalah tersedotnya surplus atau penghasilan dari sumberdaya ekonomi bangsa kita, baik akibat investasi maupun perdagangan yang timpang yang kemudian dibawa ke negeri asalnya. Akibatnya, negeri-negeri tersebut semakin kaya sementara bangsa kita semakin miskin. Di sinilah kita perlu mengingat kembali wejangan Bung Karno, agar kita selalu berhati-hati sehingga tidak menjadi bangsa kuli atau kuli di antara bangsa-bangsa! Mengenai bahan baku, Indonesia adalah sumber bahan baku yang paling berharga. Tidak ada yang bisa menolak, bahwa tanah kita adalah tanah yang subur yang dapat menghasilkan berbagai bahan baku olahan. Namun, karunia Tuhan ini ternyata juga belum bisa banyak memberi manfaat karena sebagian besar pengolahannya dilakukan bukan oleh bangsa kita sendiri sehingga keuntungan terbesar sekali lagi untuk bangsa asing. Sebagai pasar bagi produk-produk asing, Indonesia adalah pasar yang sangat luas karena penduduknya sekitar 220 juta jiwa. Dengan alasan globalisasi serta berlindung di balik WTO dan persetujuan IMF, produk-produk asing semakin menguasai pasar dalam negeri termasuk produk-produk pertanian sehingga meminggirkan puluhan juta petani di negeri kita. Kedelai, gula, bahkan beras dan sebagainya yang merupakan kebutuhan pokok rakyat pun, bangsa kita mengimpornya. Secara umum, produk-produk asing telah mampu merubah orientasi pemimpin dan masyarakat kita untuk tidak mencintai produknya sendiri! Masyarakat kita lebih suka menggunakan produk-produk asing, walau sesungguhnya mutunya tidak lebih baik dari buatan bangsa sendiri. Alat-alat rumah tangga harus asing, sandang harus asing, serta keperluan konsumsi pun harus asing. Bahkan yang sangat menyakitkan hati, suatu produk asing dengan bangga dibeli oleh masyarakat kita, padahal barang tersebut diproduksi di Indonesia, hanya saja di beri cap atau stempel asing. Nyatalah di sini bahwa kita telah kehilangan kebanggaan sebagai suatu bangsa! Karena itu wajarlah apabila kita menyatakan bahwa sekarang ini, kita sedang menghadapi ancaman rekolonisasi. Apabila kita perhatikan hal-hal di atas, maka sesungguhnya bangsa kita secara ekonomi tidak berbeda dibanding pada zaman kolonialisme dulu. Hanya saja, presidennya, wapresnya, gubernur-gubernurnya, panglima-panglima militernya, dan pejabat-pejabat tinggi negaranya masih orang Indonesia. Namun isinya, saripatinya atau substansinya, tidak lain dan tidak bukan adalah sama dengan zaman kolonialisme! Kalau dulu penjaga sistem ini adalah militer yang berseragam dan berkumpul di benteng-benteng pertahanan, maka sekarang kaum berdasi dan berjas yang berkumpul di pusat-pusat keuangan. Kalau dulu yang menjajah kita adalah negara tunggal yaitu Belanda, maka sekarang dilakukan berbagai negara, melalui perusahaan-perusahaan multi nationalnya (MNCs). Dengan kata lain, VOC telah digantikan oleh MNCs. Kita memang tidak anti terhadap modal asing. Namun janganlah modal asing membuat kita terlena sehingga kita mengobral semua kekayaan kita kepada mereka, padahal kita sesungguhnya mampu mengelolanya dan mendapatkan keuntungan daripadanya. Saat krisis seperti ini, kita memang membutuhkan modal asing, kita membutuhkan investasi asing, namun jadikanlah hal tersebut sebagai upaya untuk memacu diri, sambil terus-menerus memperbaiki kemampuan sendiri, sehingga suatu saat bisa berdikari. Modal asing haruslah kita sikapi sebagai fenomena kesementaraan, bukan fenomena ketergantungan. Kita harus yakin, bahwa suatu hari kita pun sanggup untuk mengerjakan sendiri dan dengan modal sendiri berbagai bentuk kegiatan ekonomi. Kita harus mencari keseimbangan baru (new equilibrium) antara modal asing dengan modal sendiri. Janganlah semuanya menjadi serba asing sehingga kita semakin malu dan kehilangan harga diri sebagai bangsa! Keadaan yang semakin tidak pasti ini, sesungguhnya diakibatkan dari tidak jelasnya visi orang yang mengaku dirinya sebagai pemimpin. Bahkan mereka pun bukannya menyatukan visi kenegarawanan untuk lebih mengangkat harkat dan martabat bangsa, tetapi sebaliknya bertengkar satu sama lain untuk sekedar merebut kursi kekuasaan! Sebagian dari mereka memang bersatu tetapi bukan di bawah payung penderitaan rakyat. Mereka bersatu di bawah payung golongan, payung aliran, payung etnis, payung kelompok dan sebagainya sehingga akibatnya sebagian besar rakyat tetap saja menderita! Payung penderitaan rakyat adalah getirnya kehidupan kaum buruh dan keluarganya yang serba melarat. Payung penderitaan rakyat adalah keadaan petani yang semakin miskin padahal telah bekerja dengan sangat giatnya. Payung penderitaan rakyat adalah masyarakat yang terluka dan mati akibat pertentangan etnis, agama atau tindakan terorisme. Payung penderitaan rakyat adalah bayi-bayi yang kekurangan gizi sehingga sel-sel otaknya tidak tumbuh sehingga menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi. Payung penderitaan rakyat adalah anak-anak jalanan yang berjumlah semakin banyak yang seharusnya mereka berada di taman bermain di sekolah-sekolah. Payung penderitaan rakyat adalah ketergantungan jutaan pemuda kepada narkoba. Payung penderitaan rakyat adalah usaha kecil dan menengah serta sektor informal yang bukan didorong untuk berkembang tetapi justru semakin sekarat dan tergusur. Payung penderitaan rakyat adalah ancaman globalisasi dan rekolonisasi yang akan membawa bangsa kita ke jurang kesengsaraan.n |
| < Prev | Next > |
|---|






