Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga arrow 2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua telah Menjadi Kekuatan Lama
Saturday, 31 July 2010
 
 
2. Kekuatan Kesatu dan Kekuatan Kedua telah Menjadi Kekuatan Lama PDF Print E-mail
Wednesday, 30 October 2002

Sudah pasti ada banyak keganjilan yang timbul dalam benak kita setelah menyaksikan jalannya reformasi yang ternyata tidak mampu mengatasi berbagai krisis sosial, politik, keamanan dan ekonomi bangsa kita. Keganjilan-keganjilan ini tentu ada sebabnya, dan karena itulah kita perlu menyelidikinya dengan lebih kritis. Dengan sekejap dapat kita katakan, penyebab yang utama di antaranya adalah karena era reformasi saat ini hanya diartikan dengan penggantian pemegang kekuasaan tetapi melupakan bahwa kekuatan-kekuatan lama telah membentuk suatu sistem dan tata nilai yang begitu kuat dan kokoh! Karena itulah kita perlu menyelidiki bagaimana bekerjanya sistem dan nilai yang membentuk kekuatan-kekuatan lama itu.

2.1. Kekuatan Lama Berganti Kulit

Gagalnya pelaksanaan agenda reformasi setelah lebih dari empat tahun sudah pasti karena adanya kekuatan-kekuatan lama yang bekerja untuk menghalanginya. Kita seringkali menganggap bahwa kekuatan lama adalah identik dengan orang-orang atau aktor-aktor lama. Sehingga, setelah kita berhasil menjatuhkan orang-orang lama tersebut, kita beranggapan bahwa reformasi pasti berjalan.

Anggapan ini jelaslah salah karena kekuatan lama seharusnya kita artikan sebagai sistem dan nilai-nilai lama yang diterapkan. Karena itu, apabila sistem dan nilai yang diterapkan itu adalah sistem dan nilai lama tetapi dijalankan oleh orang atau aktor baru, maka kita dengan pasti dapat mengatakan bahwa kekuatan lama sedang dijalankan kembali. Ini artinya, sampai matahari terbit dari Barat pun kita tidak akan pernah menyaksikan jalannya reformasi secara efektif! Bahkan yang pasti terjadi adalah pengkhianatan demi pengkhianatan terhadap reformasi.

Kekuasaan Orde Baru yang disimbolkan oleh Soeharto sebagai presiden memang telah jatuh. Namun, bahaya pertama yang kita hadapi adalah saat kita beranggapan bahwa jatuhnya Presiden Soeharto juga berarti runtuhnya sistem, karakter dan jiwa Orde Baru. Bahaya itu ternyata dilanjutkan oleh bahaya berikutnya yaitu banyaknya kaum oportunis yang anti rakyat yang kemudian berganti kulit menjadi kaum reformis dadakan dan bahkan ikut menjalankan pemerintahan-pemerintahan berikutnya!

Tanpa kita sadari, karakter dan jiwa Orde Baru telah merasuk ke berbagai lapisan dan golongan masyarakat. Tidak saja pada mereka yang berada di puncak-puncak birokrasi, tetapi juga sampai pada aparat yang paling rendah misalnya di kelurahan-kelurahan. Bahkan sifat-sifat feodal, serakah, culas, maling dan sebagainya juga sudah merasuk dan menjadi kebiasaan para tokoh sampai pada masyarakat yang paling bawah. Dengan kata lain, karakter dan jiwa yang tidak bermartabat ini telah mentradisi dan berurat berakar dalam masyarakat Indonesia.

Jatuhnya pemerintahan Orde Baru memang diikuti oleh bermunculannya berbagai kekuatan politik secara lebih semarak. Kekuatan-kekuatan politik ini ternyata tidak jauh berbeda dengan kekuatan-kekuatan politik sebelum Orde Baru berkuasa, yaitu ditandai dengan adanya politik aliran atau golongan. Walaupun kemunculan kekuatan politik tersebut begitu banyak, namun secara kategoris, kita bisa membedakan adanya dua kekuatan utama yaitu kekuatan nasionalis sekuler yang kita sebut sebagai Kekuatan Kesatu dan kekuatan nasionalis religius yang kita sebut sebagai Kekuatan Kedua. Kekuatan lainnya yaitu internasionalisme yang dijalankan oleh kaum sosialis-komunis, tidak muncul secara berarti karena telah dihancurkan selama era Orde Baru yang diperlemah lagi oleh semakin surutnya kekuatan ideologi ini di tingkat internasional.

Walaupun kedua kekuatan ini merupakan warisan dari para pendiri bangsa (founding fathers), namun dapatlah kita pastikan bahwa isi atau ruh dari kekuatan-kekuatan politik itu sudah jauh menyimpang dari cita-cita awalnya. Bahkan dengan seyakin-yakinnya pula kita bisa mengatakan bahwa tokoh-tokoh yang sekarang memanggul panji-panji kedua kekuatan tersebut telah mengkhianati para penggagas awalnya. Pemimpin kaum nasionalis yang berkuasa saat ini telah mengkhianati pemikiran-pemikiran Bung Karno sehingga melupakan kaum marhaen. Para pemimpin ummat Islam telah pula mengkhianati cara berjuang HOS Tjokroaminoto yang sangat setia menjalankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, yaitu membela kaum mustadh’afin! 

Saat ini, kedua kekuatan tersebut sedang berada di tampuk kekuasaan, baik itu yang berada dalam tubuh pemerintahan dari pusat sampai ke daerah, maupun yang berada dalam MPR/DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Kita harus menyelidiki bagaimana kedua kekuatan ini bekerja dan mempertanyakan mengapa kedua kekuatan ini ternyata tidak mampu menjalankan agenda reformasi terutama sekali kegagalan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!