Moh Jumhur Hidayat arrow Manifesto Kekuatan Ketiga arrow 2.2.4. Hilangnya Identitas Sosial-Budaya
Saturday, 31 July 2010
 
 
2.2.4. Hilangnya Identitas Sosial-Budaya PDF Print E-mail
Wednesday, 30 October 2002

Kehilangan identitas diri adalah kata yang paling tepat untuk menilai masyarakat kita saat ini. Berkembangnya kebudayaan modern-rasional, sesungguhnya sudah mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat kita. Namun, proses bertransformasinya nilai-nilai sosial-budaya ini, ternyata tidak berjalan secara alamiah akibat tidak sedikit para pemimpin kita yang justru dengan sengaja mempertahankan nilai-nilai lama yang feodalistis. Hal ini bisa dilihat misalnya dengan mempertahankan anggapan masyarakat kita bahwa garis keturunan merupakan hal yang mutlak, sehingga saat memilih pemimpin, mereka melihatnya atas dasar turunan siapa dan bukan karena program yang ditawarkan.

Di satu sisi rakyat telah meninggalkan nilai-nilai lama dan di sisi lainnya nilai-nilai baru tidak berhasil ditanamkan. Karena itulah kita tidak perlu heran jika melihat rakyat saat ini mengalami disorientasi nilai. Adanya disorientasi nilai-nilai sosial-budaya ini menyebabkan ketidakmampuan rakyat kita untuk dengan percaya diri menghadapi berbagai tantangan. Proses penyeleksian nilai-nilai budaya yang datang dari luar, tidak berkoherensi atau saling menguatkan dengan nilai-nilai luhur budaya lokal. Karenanya tidaklah heran, jika sebagian masyarakat kita telah sama sekali tercerabut dari akar budayanya, atau sebagian yang lain justru hidup dengan cara menghindari masuknya nilai-nilai kemodernan!

Dengan tidak adanya suatu perencanaan sosial-budaya yang mengarah pada pembentukan kembali identitas bangsa yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, maka saat ini rakyat tersekat-sekat dalam pencarian identitas baru budayanya. Sebagian kelompok mengindentifikasikan diri dengan budaya Barat, yang menyebabkan kelompok ini terkesan lebih Barat dari orang Barat sendiri. Ada lagi yang mengidentifikasikan diri dengan kebudayaan Timur Tengah. Ada pula yang beranggapan perlunya kembali pada identitas daerah sehingga terbangunlah rasa kedaerahan yang mengarah pada chauvinisme. Demikianlah, akhirnya masyarakat kita lupa bahwa yang perlu kita bangun adalah identitas ke-Indonesia-an.

Semakin memudarnya identitas sosial-budaya ini tentunya tidak terlepas dari keadaan krisis multidimensi bangsa Indonesia saat ini. Banyaknya pemimpin yang tampak semakin tidak bermartabat, krisis ekonomi yang berkepanjangan, perilaku KKN yang semakin meluas, perilaku mengemis-ngemis kepada negara-negara asing, berkembangnya pemakaian narkoba secara massal, serta tindakan-tindakan kekerasan yang ganas yang melanda berbagai daerah konflik dan sebagainya, telah menumbuhkan rasa malu untuk mengaku sebagai orang Indonesia!

Pendidikan moral dan nilai-nilai ke-Indonesia-an walaupun telah diajarkan sejak kita masih anak-anak ternyata belum mampu membentuk masyarakat yang berakhlak mulia, beretos kerja keras dan siap menghadapi berbagai tantangan. Ketidakberhasilan ini pastilah karena ada yang menjegalnya. Dengan sekejap kita bisa mengatakan bahwa yang menjegal itu di antaranya adalah gagalnya membangun ketauladanan dan pendidikan yang disuguhkan di luar sekolah. Bangsa ini telah kehilangan ketauladanan, dan karenanya sebaik apapun nilai-nilai yang diajarkan di bangku sekolah tidak pernah mencapai hasil yang diidamkan.

Kita diajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain, tetapi dalam keseharian kita menyaksikan berbagai kasus manipulasi dan korupsi oleh orang yang kita anggap pemimpin. Demikian juga kita diajarkan untuk bekerja keras membangun negeri, berkarya dan berkompetisi, tetapi kita menyaksikan bagaimana para pemimpin kita lebih menikmati barang-barang impor daripada mengembangkan dengan tekun barang-barang dalam negeri. Kita diajarkan untuk berhemat tetapi kita menyaksikan para wakil rakyat di berbagai jenjang begitu menikmati gaya hidup foya-foya dan hedonistik. Kita diajarkan untuk berlaku saleh tetapi kita melihat langsung kemaksiatan dilakukan di mana-mana secara terbuka. Kita juga diajarkan untuk mencintai orang kecil, tetapi kita menyaksikan bahwa semakin banyak mereka yang mengaku pemimpin tidak peduli dengan nasib orang kecil!

Hal yang juga kita sesalkan adalah karena pendidikan yang diperoleh di luar sekolah seringkali berbeda dengan suguhan-suguhan yang diberikan di tengah masyarakat. Celakanya, masyarakat kita lebih mudah menyerap pendidikan dari luar sekolah, seperti yang disuguhkan oleh media televisi. Suguhan-suguhan yang ditampilkan dalam televisi, biasanya berkisar pada pengksploitasian instink primitif manusia atau instink yang juga dimiliki oleh binatang! Instink primitif itu adalah mencari makan yang dalam hal ini ditunjukan dengan pameran kekayaan, kebutuhan seks yang dalam hal ini ditunjukkan dengan pornografi dan mempertahankan diri dari serangan musuh yang dalam hal ini ditunjukkan dengan bentuk-bentuk kekerasan fisik.

 

 
< Prev   Next >
Pembenahan

Mohon maaf, web http://jumhur.net ini model lama dan akan dibenahi, terimakasih atas kujungan Anda. ayahyaweb.com

 

 
Top!
Top!