| 3.1.2. Dorongan Perubahan pada Lingkungan Domestik |
|
|
|
| Wednesday, 30 October 2002 | |
|
Dalam tataran domestik atau nasional, perubahan yang sedang berlangsung adalah transisi dari masyarakat tradisional agraris menuju masyarakat industri yang modern. Sudah menjadi hukum besi sejarah bahwa dalam setiap transisi selalu akan ditandai oleh berbagai krisis. Adapun rangkaian reformasi yang sesungguhnya telah didesakkan oleh masyarakat termasuk mahasiswa jauh hari sebelum jatuhnya presiden Soeharto hingga saat ini dapat kita lihat sebagai bagian dari masa pancaroba atau masa krisis ini. Terjadinya proses perubahan dalam masyarakat ini tidak terjadi mendadak sontak melainkan suatu peristiwa yang menahun bahkan bergenerasi seiring dengan berkembangnya industrialisasi dan perkembangan pendidikan modern. Adapun apabila saat ini kita merasa seolah-olah perubahan begitu cepat terjadi, hal ini bukanlah pada tataran masyarakatnya melainkan pada tataran kelembagaan politik negaranya. Keterlambatan penguasa Orde Baru dalam memandang perubahan masyarakat inilah sesungguhnya yang menjadi pangkal runtuhnya kekuasaan Orde Baru, yaitu karena sistem kelembagaan politiknya tidak melakukan penyesuaian-penyesuaian atau adaptasi. Salah satu hal penting dari perubahan ini adalah bahwa masyarakat secara rata-rata telah meningkat kesadaran dirinya termasuk kesadaran politik, ekonomi dan kulturalnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa masyarakat telah jauh semakin cerdas. Karenanya dalam situasi ini, pemimpin tidak bisa lagi dengan gegabah menelurkan kebijakan karena bisa langsung mendapat protes dari masyarakat. Adapun apabila kebijakannya sangat merugikan rakyat, maka tidak mustahil pemimpin itu akan dijatuhkan dengan cara yang kurang terhormat sekalipun masih dalam koridor konstitusional atau kalaupun tidak dijatuhkan, pemimpin tersebut akan kehilangan dukungan! Dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa masyarakat kita juga sedang menuju masyarakat yang terbuka (open society). Perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan teknologi angkutan telah merubah sebagian besar wajah masyarakat kita. Pertukaran informasi yang dapat dengan semakin mudah diperoleh akan menyebabkan kesadaran rakyat jauh meningkat. Apabila kesadaran yang meningkat ini dikaitkan dengan kesadaran kehidupan ekonominya yang masih terbelakang secara struktural, maka kesadaran ini akan mengubah orientasi politiknya juga. Keterbukaan politik saat ini masih belum diikuti oleh pemberdayaan ekonomi rakyat secara memadai, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan dalam masyarakat yang akan terus berlangsung sampai tercapainya keseimbangan baru (new equilibrium), yaitu keseimbangan yang juga memberikan kesempatan ekonomi yang lebih merata kepada rakyat banyak. Perspektif ketidakseimbangan ini bila dikaitkan dengan geopolitik, maka dengan sangat mudah kita memahami mengapa saat ini timbul berbagai ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat yang dianggap terlalu dominan dalam penguasaan alokasi sumberdaya ekonomi. Isu ketidakseimbangan ini juga sedang menerpa hubungan desa-kota. Di satu sisi seringkali masyarakat perkotaan yang bercorak industri mendapat kemudahan-kemudahan dalam alokasi sumberdaya ekonomi seperti permodalan, sarana dan prasarana serta informasi, sementara di sisi lainnya masyarakat pedesaan termasuk petani dan nelayan mengalami banyak kesulitan dalam mengakses pada sumberdaya ekonomi ini. Dalam masyarakat perkotaan ini pun ketidakseseimbangan sedang dan akan terus menerpa hubungan buruh dan pengusaha. Dengan dibebaskannya buruh untuk mengorganisasikan diri, maka upaya penyadaran pada komunitas ini pun semakin dirasakan secara massal, yang pada akhirnya akan meningkatkan banyak tuntutan. Upaya penyadaran terhadap kaum buruh ini adalah upaya yang relatif mudah karena buruh biasanya terkonsentrasi dalam lokasi tertentu yang mudah dicapai, di samping kaum buruh ini relatif berpendidikan lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja di sektor pertanian dan nelayan. Bahkan yang cukup berbahaya bila ketidakseimbangan ini menerpa hubungan etnis pri-nonpri. Ketegangan yang terjadi sebenarnya bukan karena perbedaan etnisnya, melainkan karena etnis nonpri tampak bisa lebih maju sementara pribumi kebanyakan tidak demikian. Terlebih lagi rakyat telah terbuka matanya, bahwa selama ini, khususnya pengusaha kakap dari kalangan nonpri telah kabur membawa modal meninggalkan tanah air dengan merugikan negara hingga ratusan trilyun rupiah terutama melalui kredit macet dan kasus BLBI-nya. Kita tentunya harus menghindari segala bentuk ketegangan antar etnis karena hal tersebut akan memukul wajah kita sebagai bangsa. Namun demikian, perlu disadari oleh kita semua termasuk para pemimpin dan pengambil kebijakan, agar tidak mengguyurkan bensin pada saat semua orang ingin memadamkan api ketegangan antar etnis ini! |
| < Prev | Next > |
|---|






